Mengapa si pitung menjadi kebanggaan masyarakat jakarta hingga saat ini?

mengapa si pitung menjadi kebanggaan masyarakat jakarta hingga saat ini
Jakartakita.com – Siapa yang tidak kenal dengan Si Pitung. Jagoan asal Betawi yang menjadi bagian dari sejarah Jakarta tempo dulu. Sejumlah literatur yang ditulis oleh orang Belanda menyebutkan bahwa Si Pitung adalah penjahat kriminal yang ditakuti seantero Batavia, terutama pemerintah Belanda.

  • Namun bagi rakyat jelata, Si Pitung adalah Robin Hood yang menyelamatkan mereka dari kelaparan.
  • Maklum pada zaman penjajahan Belanda, rakyat pribumi sedemikian sengsaranya hingga untuk makan yang layak saja susah.
  • Hanya pribumi yang punya hubungan dekat dengan dengan Belanda saja yang bisa hidup layak.

Legenda Si Pitung menjadi warisan budaya Betawi. Kisah Legenda Si Pitung ini kadang-kadang dituturkan menjadi rancak (sejenis balada), sair, atau cerita Lenong. Menurut versi Koesasi (1992), Si Pitung di identikan dengan tokoh Betawi yang membumi, muslim yang saleh, dan menjadi contoh suatu keadilan sosial.

Si Pitung lahir di daerah Pengumben sebuah kampung di Rawabelong yang pada saat ini berada di sekitar lokasi Stasiun Kereta Api Palmerah. Ayahnya bernama Bung Piung dan ibunya bernama Mbak Pinah. Pitung menerima pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin (seorang pedagang kambing). Si Pitung merupakan nama panggilan asal kata dari Bahasa Jawa Pituan Pitulung (Kelompok Tujuh), kemudian nama panggilan ini menjadi Pitung.

Nama asli Si Pitung sendiri adalah Salihun (Salihoen). Menurut Damardini (1993:148) dalam Van Till (1996): Pitung memang perampok. Kalau menurut istilah sekarang, Pitung itu pengacau, dan dicari oleh Pemerintah. Pitung memang jahat. Pekerjaannya merampok dan memeras orang-orang kaya.

  1. Menurut kabar, hasil rampokannya dibagikan pada rakyat miskin.
  2. Namun sebenarnya tidak.
  3. Tidak ada perampok yang rela membagi hasil rampokannya dengan cuma-cuma, bukan? Menurut kabar, Pitung menyumbangkan uangnya pada mesjid-mesjid.
  4. Saat itu mesjid hanya ada di Pekojan, Luar Batang, dan Kampung Sawah.
  5. Tidak ada bukti bahwa Pitung mendermakan uangnya di sana.’ Pitung menjadi karakter sebagai Robin Hood versi Betawi dikembangkan oleh Lukman Karmani (Till, 1996).Karmani menulis novel Si Pitung, novel ini dikisahkan bahwa Si Pitung sebagai pahlawan sosial.

Menurut Rahmat Ali (1993). ‘Pitung sebagai tokoh kisah Betawi masa lampau memang dikenal sebagai perampok, tetapi hasil rampokan itu digunakan untuk menolong orang-orang yang menderita. Dia adalah Robin Hood Indonesia. Walaupun demikian pihak yang berwenang tidak memberikan toleransi, orang yang bersalah harus tetap diberi hukuman yang setimpal’ (Rahmat Ali 1993:7).

  • Beragam pro dan kontra banyak menyelubungi di balik kisah legenda Si Pitung ini, tetapi pada dasarnya bahwa tokoh Si Pitung adalah cerminan pemberontakan sosial yang dilakukan oleh “Orang Betawi” terhadap penguasa pada saat itu yaitu Belanda.
  • Apakah hal ini dipertanyakan valid atau tidaknya, kisah Si Pitung begitu harum didengar dari generasi ke generasi oleh masyarakat Betawi sebagai tanda pembebasan sosial dari belenggu penjajah.

Hal ini ditunjukkan dari Rancak Pitung diatas bagaimana Si Pitung begitu ditakuti oleh pemerintah Belanda pada saat itu.

Apa pesan moral yang dapat diambil dari cerita Si Pitung?

KARYA ILMIAH – SKRIPSI

– (Read : 2 Times)
Kode Buku : Rs 398.23259822 IND s Universitas Negeri Malang. Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia 2016
ABSTRAK Indah, Dwi Putri.2016. Struktur Naratif Vladimir Propp dan Nilai Moral Cerita Si Pitung Di Daerah Rawa Belong. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd, (II) Dr. Roekhan, M.Pd Kata Kunci: sastra lisan, cerita Si Pitung, struktur naratif Vladimir Propp, nilai moral. Si Pitung merupakan cerita rakyat dari budaya Betawi, tepatnya di daerah Rawa Belong di Jakarta Barat. Pitung adalah seorang pemuda yang memiliki kemampuan bela diri serta keberanian yang tinggi dalam menghadapi penjajah Belanda. Nama Pitung sampai saat ini dikenal dan menjadi legenda untuk masyarakat Betawi, karena sosoknya sebagai pahlawan pada zaman penjajahan dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur naratif cerita Si Pitung yang dapat ditemukan berdasarkan fungsi pelaku, dan nilai moral dalam cerita Si Pitung. Penelitian ini menggunakan pendekatan dari teori struktur naratologi Vladimir Propp dan jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Data penelitian diperoleh dari hasil wawancara dengan informan. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan penyebaran angket. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi. Hasil yang diperoleh dari penelitian mengenai cerita Si Pitung adalah ditemukannya 11 struktur naratif berdasarkan fungsi pelaku dan 6 nilai moral yang terdapat di dalam cerita. Sebelas fungsi pelaku yang membangun kontruksi cerita adalah fungsi pelaku yang membangun kontruksi cerita yaitu (1) fungsi ketiadaan, (2) fungsi kejahatan, (3) fungsi permulaan tindak balas, (4) fungsi pertama donor, (5) fungsi reaksi pahlawan, (6) fungsi penerimaan alat sakti, (7) fungsi perpindahan, (8) fungsi berjuang dan bertarung, (9) fungsi kebutuhan terpenuhi, (10) fungsi kepulangan, dan (11) fungsi pengejaran dan penyelidikan. Nilai moral yang ditemukan dalam cerita Si Pitung ada tiga jenis nilai moral, yaitu nilai moral individu, nilai moral sosial, dan nilai moral religi. Nilai moral individu pada cerita Si Pitung ada dua yaitu (1) pandai dan (2) berani. Nilai moral sosial yang terdapat di dalam cerita Si Pitung ada dua yaitu (1) tolong-menolong dan (2) rela berkorban. Nilai moral religi dalam cerita Si Pitung ada dua yaitu (1) beribadah dan (2) percaya adanya Tuhan. Secara keseluruahan, cerita mengenai Si Pitung yang ada di lingkungan penduduk Desa Rawa Belong merupakan cerita yang menjadi sebuah sejarah untuk penduduk daerah Rawa Belong. Karena lewat cerita Si Pitunglah, nama Desa Rawa Belong menjadi terkenal dan melegenda di tanah Betawi. Si Pitung membawa dan meninggalkan jejak yang baik di Rawa Belong, sehingga membuat banyak masyarakat luar Rawa Belong penasaran dan ingin mencari tahu bagaimana cerita sebenarnya mengenai Si Pitung yang dijuluki sebagai pahlawan Batavia.

Apakah Si Pitung merasa iba kepada rakyat kecil?

Si Pitung merasa iba menyaksikan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil. Sementara itu, kumpeni (sebutan untuk Belanda), sekelompok Tauke dan para Tuan tanah hidup bergelimang kemewahan. Rumah dan ladang mereka dijaga oleh para centeng yang galak.

Mengapa Si Pitung disebut pahlawan?

KOMPAS.com – Si Pitung atau Bang Pitung adalah seorang “bandit” dari Betawi yang hidup pada abad ke-19. Bagi masyarakat Betawi, Si Pitung adalah pahlawan, karena ia hanya mencuri dari orang-orang kaya dan membagikan rampasannya kepada rakyat yang tertindas.

Karena aksinya ini, sosok jagoan yang dijuluki sebagai Robin Hood asal Betawi ini pernah menjadi musuh bebuyutan penjajah Belanda. Bahkan, berbagai macam orang sudah dikirim dan dijanjikan imbalan apabila berhasil menangkapnya. Pada akhirnya, Pitung berhasil ditemukan dan ditembak di tempat. Namun, tidak sedikit yang meragukan bahwa cerita Si Pitung adalah kisah nyata, karena kurangnya sumber sejarah dan banyaknya versi cerita tentangnya.

Si Pitung, Tokoh Legendaris Asal Betawi

Berikut ini kisah singkat Si Pitung. Baca juga: Si Pitung, Jagoan Betawi yang Menjadi Musuh Bebuyutan Kompeni

Apa yang kamu ketahui tentang Si Pitung jelaskan *?

Si Pitung (lahir di Rawa Belong, Palmerah, Batavia, Hindia Belanda (kini Jakarta, Indonesia), 1866 – meninggal di Kecamatan Tanah Abang, Batavia, Hindia Belanda, 1893; ejaan lama: Si Pitoeng) atau Pitung adalah seorang pahlawan betawi abad ke-19 di Batavia, Hindia Belanda (sekarang Jakarta, Indonesia).

Apa latar dari cerita Si Pitung?

Si Pitung adalah sebuah legenda yang sudah ada sejak zaman Belanda. Dimana sosok Si Pitung merupakan pahlawan bagi rakyat pada masa itu khusunya bagi suku betawi daerah Rawabelong, Jakarta Barat.

Termasuk unsur apakah pesan moral dalam sebuah cerita?

Ilustrasi pesan moral dalam cerita. Foto: iStock Karya sastra, termasuk cerita fiksi ataupun nonfiksi, merupakan cerminan, gambaran, atau refleksi kehidupan masyarakat. Melalui karya sastra, pengarang berusaha mengungkapkan lika-liku kehidupan masyarakat yang mereka rasakan dan mereka alami.

  1. Pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca itu disebut dengan pesan moral.
  2. Pesan moral merupakan unsur intrinsik, yaitu unsur utama yang harus ada dalam sebuah cerita.
  3. Unsur inilah yang membangun keutuhan cerita tersebut.
  4. Dengan kata lain, pesan moral menjadi bagian penting dalam sebuah cerita.

Adanya pesan moral menunjukkan bahwa cerita tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa manfaat bagi pembacanya. Pesan moral biasanya disampaikan melalui tokoh, latar, maupun alur cerita itu sendiri. Penjelasan lebih lanjut mengenai apa itu pesan moral dapat disimak dalam ulasan berikut ini.

Ilustrasi membaca cerita. Foto: iStock Pesan moral adalah amanat dalam sebuah cerita atau karya lainnya yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Pesan yang ingin disampaikan biasanya berupa pesan moral berupa nilai-nilai baik yang bisa dijadikan teladan atau contoh bagi para pembaca. Pesan moral pada cerita dapat disampaikan secara tersirat atau tersurat.

Secara tersirat artinya tidak langsung, dapat disampaikan melalui perkembangan tokoh, sedangkan pesan moral yang tersurat ditunjukkan secara langsung, misalnya lewat percakapan antartokoh. Mengutip buku Teori Pengkajian Fiksi oleh Burhan Nurgiyantoro, pesan moral dalam cerita biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang dan pandangannya tentang nilai-nilai kebenaran.

Itulah yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Melalui cerita, sikap, dan tingkah laku tokoh-tokoh dalam karya itulah pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah, pelajaran, dan pesan-pesan moral yang disampaikan atau diamanatkan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang disampaikan lewat cerita fiksi tentu berbeda efeknya dengan yang disampaikan lewat cerita nonfiksi.

Cerita fiksi menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan. Sifat-sifat luhur tersebut umumnya bersifat universal. Artinya, sifat-sifat itu dimiliki dan diyakini kebenarannya oleh banyak orang. Sebuah cerita yang menawarkan pesan moral bersifat universal biasanya akan diterima dan dinikmati oleh masyarakat secara universal pula.

  1. Meski tetap dipengaruhi oleh unsur intrinsik lain seperti tema, latar, maupun penokohan.
  2. Adanya pesan moral yang dekat dengan kehidupan masyarakat juga bisa membuat pembaca lebih mendalami cerita tersebut.
  3. Pembaca dapat ikut merasakan apa yang tengah dialami tokoh sehingga dapat merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh pesan moral dapat dipahami dengan mudah dalam cerita Malin Kundang. Pesan moral yang ingin disampaikan oleh pengarang antara lain:

Harus berbakti kepada orangtua, dalam keadaan susah maupun senang. Kerja keras akan membuahkan hasil selama berjuang dengan pantang menyerah.

Bagaimana watak para tokoh dalam cerita Si Pitung?

Tokoh-Tokoh dalam Cerita Fiksi Si Pitung –

  1. Tokoh-tokoh dalam cerita fiksi Si Pitung yaitu Si Pitung, Haji Naipin, Babah Liem, anak buah Babah Liem, Pak Piun, dan Schout Heyne.
  2. Tokoh utama dalam cerita fiksi Si Pitung adalah Si Pitung. Alasannya, tokoh Si Pitung mendominasi keseluruhan cerita.
  3. Tokoh tambahannya yaitu Haji Naipin, anak buah Babah Liem, Schout Heyne, Babah Liem, dan Pak Piun. Alasannya, tokoh-tokoh tersebut hanya muncul pada saat adegan-adegan tertentu.
  4. Tokoh protagonis dalam cerita ” Si Pitung” yaitu Si Pitung dan Haji Naipin. Alasannya, mereka memiliki sifat baik, yaitu mereka membela orang-orang tertindas.
  5. Tokoh antagonisnya yaitu Babah Liem, anak buah Babah Liem, dan Schout Heyne. Alasannya, mereka menindas rakyat jelata.

Baca juga:

  • Ciri-Ciri Cerita Fiksi, Jenis, dan Contohnya
  • Cerita Semut dan Belalang

Lantas bagaimana cerita fiksi Si Pitung? Baca cerita di bawah ini untuk mengetahui tokoh-tokoh yang ada di dalamnya ya. Suatu sore Si Pitung melihat kelakuan anak buah Babah Liem yang sewenang-wenang. Babah Liem adalah tuan tanah di daerah tempat tinggal Si Pitung.

  1. Dia dan anak buahnya sering merampas harta rakyat dan menarik pajak tinggi.
  2. Sebagian hasil rampasan itu diberikan kepada pemerintah Belanda.
  3. Si Pitung bertekad untuk melawan anak buah Babah Liem.
  4. Emudian, dia berguru kepada Haji Naipin, seorang ulama yang juga pandai ilmu bela diri.
  5. Si Pitung cepat menguasai semua ilmu yang diajarkan oleh Haji Naipin.

“Pitung, gunakan ilmu yang kuberikan untuk membela orang- orang yang tertindas. Jangan sekali-kali kau gunakan ilmumu ini untuk menindas orang lain,” pesan Haji Naipin. Sekarang Si Pitung sudah siap melawan anak buah Babah Liem. Dia menghentikan ulah anak buah Babah Liem yang sedang merampas harta rakyat jelata.

  • Heh, Anak Muda! Siapa kau? Beraninya menghentikan kami!” tanya salah satu anak buah Babah Liem.
  • Alian tak perlu tahu siapa aku.
  • Yang jelas, aku akan menghentikan ulah kalian selamanya,” jawab Si Pitung.
  • Anak buah Babah Liem menyerang Si Pitung.
  • Namun, Si Pitung bisa mengalahkan mereka semua.
  • Sejak saat itu, nama Si Pitung terkenal di kalangan penduduk.

Baca juga: Kenali 6 Unsur Utama dalam Tari Si Pitung memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada rakyat jelata. Dia bertekad untuk mengambil kembali hak yang sudah dicuri oleh tuan tanah dan mengembalikannya kepada rakyat. Dia mengajak beberapa temannya untuk bergabung dengannya.

Kelakuan Si Pitung tidak disukai oleh tuan tanah dan juga pemerintah Belanda. Mereka mengeluarkan perintah untuk menangkap Si Pitung. Namun, Si Pitung amat cerdik. Dia selalu berpindah tempat sehingga pemerintah Belanda dan juga tuan tanah tidak bisa menangkapnya. Karena kesal, pemerintah Belanda menggunakan cara licik.

Mereka menangkap Pak Piun, ayah Si Pitung dan Haji Naipin. Salah satu pejabat pemerintah Belanda yang bernama Schout Heyne mengumumkan bahwa jika Si Pitung tak menyerah, Pak Piun dan Haji Naipin akan dihukum. Si Pitung mendengar berita tentang penangkapan ayah dan gurunya itu.

Untuk apa Si Pitung merampok?

Si Pitung Perampok Ulung – Masih tentang sejarah Si Pitung, kabarnya rumah yang dirampok itu merupakan kediaman Hadji Sapiudin yaitu tuan tanah asal Bugis, Sulawesi Selatan. Aksi perampokan tersebut menyebar luas sampai dimuat dalam surat kabar Hindia Olanda pada 10 Agustus 1892.

Peristiwa ini bukanlah terjadi satu-dua kali. Pitung kerap merampok rumah tuan tanah lain untuk mengambil hasil rampasan mereka dan membagikannya kembali ke warga miskin. Hampir semua tuan tanah sudah mengenal Si Pitung bahkan ketika mereka mengalami perampokan, namanya selalu diincar dan diburu polisi.

Si Pitung juga dianggap pemberontak sehingga orang-orang Belanda ingin dirinya ditumpas seakan-akan mereka ini tidak bergerak bebas dalam menindas orang-orang kecil. Sampai pada akhirnya Si Pitung benar-benar tewas tertembak peluru emas milik kepala kepolisian karesidenan Batavia A.M.V Hinne.

Si Pitung hidup tahun berapa?

KOMPAS.com – Pada masa penjajahan kolonial Belanda, muncul sosok jagoan dari Betawi yang dikenal dengan nama Si Pitung, Sosok yang juga dijuluki sebagai Robin Hood dari tanah Betawi ini diperkirakan hidup pada akhir tahun 1800-an. Si Pitung adalah seorang bandit yang mencuri dari rumah-rumah orang kaya untuk dibagikan kepada rakyat miskin yang tertindas.

  • Bagi masyarakat Betawi, ia disanjung sebagai seorang pahlawan.
  • Namun, bagi kompeni (penjajah asal Belanda), Si Pitung dianggap sebagai penjahat dan musuh bebuyutan karena telah berani mengganggu ketenteraman orang-orang kaya.
  • Di sisi lain, minimnya jejak sejarah dan banyaknya versi cerita tentang Si Pitung terkadang membuat eksistensinya diragukan.

Lantas, benarkah Si Pitung itu ada? Baca juga: Mempelajari Sejarah Rumah Si Pitung, Rumah yang Tak Pernah Dihuni Si Pitung.

Kenapa Si Pitung masih dianggap sebuah cerita mitos bukan cerita sejarah?

Karena pada jaman dahulu kala Si Pitung selalu melawan kepada kedua orang tuanya, maka pada saat ini cerita Si Pitung masih dianggap mitos atau tidak nyata

Apakah cerita Si Pitung nyata?

Dicky Zulkarnaen (kiri) memerankan Si Pitung (1970) karya sutradara SM Ardan. Foto dari “In Search of Si Pitung: The History of an Indonesian Legenda” karya Margreet van Till. DARI kejauhan terdengar suara tembakan memecah malam pada 30 Juli 1892. Rumah tuan tanah asal Bugis, Hadji Sapiudin, di kawasan Marunda dirampok gerombolan bersenjata.

Seorang menodong Hadji Sapiudin, sisanya menguras isi rumah. Esoknya, warga heboh. Mereka percaya kelompok Si Pitung pelaku perampokan itu. Peristiwa ini terekam dalam koran Hindia Olanda, 10 Agustus 1892. Sebulan kemudian, Si Pitung ditangkap. Rumahnya digeledah. Polisi menemukan barang bukti uang sebesar 125 gulden di sebuah lubang rahasia di lantai rumah.

Pitung dijebloskan ke penjara di Meester Cornelis. Namun, tak lama berselang, Si Pitung bersama gengnya, Dji’ih, Rais, dan Jebul meloloskan diri. Di kalangan warga Betawi, sosok Si Pitung dikelilingi kabut mitos. Berbagai cerita mengisahkan Pitung memiliki kekuatan supranatural untuk lolos dari kejaran polisi.

  • Sebagai kepala geng, Si Pitung merampok rumah-rumah tuan tanah yang kaya.
  • Dia terkenal karena keberaniannya, yang dipercaya memiliki senjata-senjata magis dan kekuatan-kekuatan magis,” tulis Henk Schulte Nordholt dan Margreet van Till, “Colonial Criminals in Java” dalam Figures of Criminality in Indonesia, the Philippines, and Colonial Vietnam karya Vicente L.

Rafael. Pitung bukan legenda belaka. Menurut sejarawan Belanda Margreet van Till dalam “In Search of Si Pitung: The History of an Indonesian Legend”, dimuat jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol.152, 1996, sosok Si Pitung benar-benar berdasarkan sosok nyata yang hidup pada paruh kedua abad ke-19.

  • Si Pitung lahir di Pengumben, sebuah desa di Rawa Belong, anak dari pasangan Bung Piung dan Mbak Pinah.
  • Masa kecilnya dihabiskan di pesantren pimpinan Hadji Naipin.
  • Selain mengaji, dia belajar silat.
  • Etika dewasa, Si Pitung terkenal di kalangan rakyat Betawi sebagai seorang jago yang baik hati.
  • Merampok untuk dibagikan kepada rakyat miskin.

Si Pitung melakukan perampokan pada 1892-1893. Aksi-aksinya terekam dalam suratkabar Hindia Olanda, disebut sebagai salah satu buronan kelas kakap polisi kolonial. “Perbedaan penyebutan namanya memperlihatkan pada saat itu dia tidak dikenal luas: kadang-kadang dia disebut ‘Si Bitoeng’, waktu lain ‘Pitang’.

Setelah beberapa bulan, editor Hindia Olanda memutuskan secara konsisten menyebutnya dengan ‘Si Pitoeng’,” tulis Margreet. Margreet juga membongkar nama asli Si Pitung. Ketika tertangkap polisi, dalam dokumen pemeriksaannya terungkap nama aslinya: Salihoen. Menurut sebuah cerita lisan, nama Si Pitung merupakan turunan dari bahasa Jawa, pituan pitulung (kelompok tujuh).

Di kalangan warga Betawi, ketika Si Pitung meninggal, berita kematiannya berkembang penuh mitos. Mereka percaya Si Pitung meninggal akibat kehilangan jimatnya, yakni rambut.

Apa pesan moral dari cerita Sangkuriang?

Amanat dari legenda Sangkuriang adalah ‘Agar kita selalu menghormati dan menuruti apa kata orangtua. Dan sayang kepada hewan peliharaan kita. Juga kita tidak boleh menuruti hawa nafsu sehingga mudah marah.

Bagaimana sifat dari si Pahit Lidah?

Kedua tokoh dalam cerita rakyat Si Pahit Lidah ini adalah bernama Aria Tebing. Dalam penokohannya Aria Tebing memiliki sifat yang baik hati, tidak pemarah, iri hati dan pendendam. Namun, ia berubah sifatnya menjadi orang yang curang disaat Serunting mengajak berduel dengannya.

Apakah pesan moral yang terkandung dalam kisah batu?

Pesan Moral – Pesan moral dari Legenda Batu Menangis adalah selalu menghormati dan sayangi kedua orang tua. Karena, kesuksesan dan kebahagiaan mu akan sangat tergantung dari doa kedua orang tuamu. Sumber: www.gramedia.com dan al-mumtaz.ukm.iain-palangkaraya.ac.id Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com.

Apa pesan moral yang dapat diambil dari cerita Roro Jonggrang?

Dari cerita tersebut, pesan moral yang dapat dipelajari adalah jangan menjadi orang yang kejam seperti Bandung Bondowoso karena tidak akan disukai oleh orang lain dan jangan memberikan janji palsu seperti Roro Jonggrang yang bersedia menikahi Bandung Bondowoso padahal tidak karena dapat berakibat buruk.

Adblock
detector