Mengapa sila pertama pada piagam jakarta dirubah?

mengapa sila pertama pada piagam jakarta dirubah
Alasan Perubahan Sila Pertama – Alasan perubahan sila pertama Piagam Jakarta sebagaimana disebutkan di atas adalah demi kepentingan bangsa dan negara yang memiliki berbagai suku bangsa serta agama. Kalimat perubahan ini mencerminkan bahwa bangsa Indonesia menjunjung tinggi toleransi.

  1. Sehingga, perubahan itu turut memperlihatkan komitmen para pendiri bangsa dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan.
  2. Mengutip arsip berita detikEdu, rumusan sila pertama dalam Piagam Jakarta memang sempat menuai kritik.
  3. Beberapa tokoh perwakilan dari Indonesia Timur menyampaikan keberatan mengenai butir kesatu tersebut.

Alasannya, Indonesia tidak hanya dari kalangan umat muslim saja. Inilah yang jadi salah satu latar belakang perubahan sila pertama Pancasila. Disebutkan pula dalam buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan oleh Rahmanuddin Tomalili, Pancasila bukan suatu sistem nilai yang sifatnya teoretis, melainkan dekat dengan kehidupan warga negara Indonesia.

Mengapa isi sila pertama dalam Piagam Jakarta harus diubah?

Perubahan Butir Pertama Piagam Jakarta – Pada 17 Agustus 1945, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia. Namun, hari itu juga, terjadi permasalahan. Meski telah disetujui pada sidang BPUPKI kedua, isi Piagam Jakarta kembali memicu konflik.

Bagian yang dipermasalahkan masih sama, yakni bunyi sila pertama dalam Piagam Jakarta, “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Persis setelah proklamasi dikumandangkan, tersiar kabar bahwa rakyat Kristen di wilayah Indonesia timur akan menolak bergabung Republik Indonesia apabila syariat Islam masuk dalam UUD.

Ada yang mengatakan bahwa kabar tersebut disampaikan oleh seorang opsi Angkatan Laut Jepang kepada Moh Hatta. Ada pula yang menyatakan bahwa perwakilan yang menemui Moh Hatta adalah tiga mahasiswa Ika Daigaku, yakni Piet Mamahit, Moeljo, dan Imam Slamet, yang berpakaian seragam Angkatan Laut Jepang.

Baca juga: Biografi Moh Hatta, Wakil Presiden Pertama Indonesia Tiga mahasiswa itu diutus setelah terjadi diskusi antara tokoh Asrama Prapatan 10 dengan Dr Ratulangi, AA Maramis, dan Mr Poedja. Menanggapi hal itu, Moh Hatta mengumpulkan wakil golongan Islam seperti Wachid Hasjim, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Kasman Singodimedjo, dan Teuku Mohammad Hasan untuk membicarakan persoalan itu.

Dalam pembicaraan informal, akhirnya disepakati bahwa frasa “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” demi persatuan dan kesatuan bangsa. Pada sidang PPKI, 18 Agustus 1945, Moh.

Hatta membacakan beberapa perubahan sebagaimana telah disepakatinya bersama beberapa wakil golongan Islam. Setelah ada perubahan isi, Piagam Jakarta diubah namanya menjadi Pembukaan UUD 1945, dan diresmikan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945. Sehingga, alasan butir pertama dalam Piagam Jakarta diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa adalah demi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Perubahan itu dilakukan setelah Moh Hatta mendapat kabar bahwa rakyat Kristen di wilayah Indonesia timur akan menolak bergabung Republik Indonesia apabila syariat Islam masuk dalam UUD. Referensi:

Tim Penyusun Revisi Naskah Komprehensif Perubahan UUD 1945. (2010). Naskah Komprehensif Perubahan UUD 1945 – Buku II. Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Mengapa rumusan Piagam Jakarta poin pertama diganti brainly?

Piagam Jakarta atau Jakarta Charter merupakan piagam yang disusun dalam rapat Panitia Sembilan yang berlangsung pada 22 Juni 1945. Piagam Jakarta awalnya dimaksudkan untuk menjadi teks proklamasi kemerdekaan, namun pada akhirnya direncanakan untuk dijadikan Mukadimah pada Undang-undang Dasar 1945.

Sebagai pembukaan dari UUD 1945, Piagam Jakarta dimaksudkan untuk menjadi sumber yang memancarkan Konstitusi dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Namun,, pada saat pengesahan UUD 1945 pada sidang PPKI yang berlangsung pada 18 Agustus 1945, sidang memutuskan melakukan perubahan atas Mukadimah tersebut.

Butir pertama pada Piagam Jakarta yang mewajibkan pelaksanaan Syariat Islam bagi para pemeluknya, kemudian diganti menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Keputusan ini dilakukan oleh Drs.M. Hatta setelah mendapat usulan dari A.A. Maramis, Teuku Muhammad Hasan, Ki Bagus Hadikusumo, dan Kasman Singodimejo.

Perubahan ini dilakukan dengan alasan AGAR TIDAK TERJADI PERPECAHAN DALAM BANGSA INDONESIA DAN MEMBERI KEBEBASAN BAGI PARA PENGANUT AGAMA DAN KEPERCAYAAN LAIN DALAM MENJALANKAN KEWAJIBAN AGAMA SESUAI DENGAN AGAMA MEREKA MASING-MASING. Contoh lain tentang Piagam Jakarta dapat kamu pelajari pada halaman berikut: brainly.co.id/tugas/9998537 Simpulan: Perbedaan yang paling mendasar antara bagian Pembukaan UUD 1945 dan Piagam Jakarta terletak pada rumusan dasar negara.

Pada Pembukaan UUD 1945, dasar negara kita dirumuskan dengan berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Kelas: SD Mata pelajaran: IPS Kategori: Dasar negara Kata kunci: bagian pembukaan, UUD 1945, piagam Jakarta, rumusan dasar negara, Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa

See also:  Upacara adat apa saja yang ada di dki jakarta?

Apa yang menjadi latar belakang perubahan pada sila pertama?

Latar Belakang Perubahan Sila Pertama Pancasila – Melansir dari buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan karangan Rahmanuddin Tomalili, sebelum terbentuk rumusan Pancasila seperti yang kita kenal sekarang, pada tanggal 22 Juni 1945 sembilan tokoh nasional yang disebut Panitia Sembilan berhasil menyusun sebuah naskah piagam yang dikenal dengan Piagam Jakarta.

Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya Kemanusiaan yang adil dan beradab Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Beberapa tokoh perwakilan dari Indonesia Timur menyatakan keberatan dengan sila pertama dalam rumusan tersebut. Hal ini muncul karena dianggap bahwa rakyat Indonesia tidak hanya berasal dari kalangan muslim saja. Inilah alasan utama yang menjadi salah satu latar belakang perubahan rumusan sila pertama.

  1. Isah latar belakang perubahan sila pertama, bermula dari datangnya utusan opsir Kaigun (Angkatan Laut Jepang).
  2. Mereka memberitahukan bahwa wakil-wakil Protestan dan Katolik dari wilayah yang dikuasai oleh Angkatan Laut Jepang merasa keberatan dengan bagian kalimat rumusan dasar negara dalam naskah Piagam Jakarta.

Akhirnya, sebelum sidang PPKI dimulai, Mohammad Hatta mengajak Ki Bagus Hadikusumo, K.H Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Mr. Teuku Mohammad Hasan mengadakan suatu rapat pendahuluan.Mereka akhirnya bermusyawarah dan bermufakat untuk menghilangkan bagian kalimat tersebut dan menggantikannya dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Mengapa umat Islam merelakan perubahan tujuh kata pada Piagam Jakarta menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa pada 18 Agustus 1945?

Penghapusan ‘ tujuh kata ‘ dalam sila pertama Piagam Jakarta itu disebabkan adanya desakan dari anggota PPKI asal bagian Timur Indonesia. Jika ‘ tujuh kata ‘ itu dicantumkan, pihak Kristen dari Indonesia bagian timur tidak mau bersatu dengan RI yang baru saja diproklamasikan.

Mengapa sila pertama dari Piagam Jakarta dikurangi kalimatnya?

mengapa sila pertama pada piagam jakarta dirubah Gedung Pancasila. ©2013 Merdeka.com/Ahmad Ragridio Merdeka.com – Undang-undang dasar 1945 adalah pedoman hukum yang sampai saat ini masih dipakai oleh Bangsa Indonesia. Perumusan UUD ini ternyata harus melewati banyak perjalanan yang panjang loh. Simak bagaimana kisahnya.

Pernyataan Indonesia Merdeka Pembukaan UUD Batang Tubuh Undang-undang dasar

Setelah itu, di tanggal 15 Juli 1945 BPUPKI kembali melakukan sidang untuk membicarakan rangcangan UUD. Keesokan harinya, BPUPKI sudah menerima hasil rancangan UUD secara utuh. Dengan begitu, selesailah tugas BPUPKI untuk menyelidiki proses kemerdekaan Indonesia. Sidang pertama PPKI dilakukan di Pejambon. Sebelum rapat dimulai, Ir. Sukarno dan Drs. Mohammad Hatta meminta kepada Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, Mr Kasman Singodimedjo dan Mr. Teuku Mohammad Hasan untuk membahas lagi tentang rancangan UUD. Hal itu dikarenakan adanya kelompok yang nggak mau menerima kalimat pertama sila pertama naskah Piagam Jakarta,

Apa alasan penggantian kalimat Ketuhanan dengan menjalankan syariat?

Jawaban terverifikasi ahli hal tersebut dikarenakan indonesia memiliki berbagai agama, oleh karena itu dilakukan pengubahan kalimat Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat lslam bagi pemeluk-pemeluknya menjadi kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa.

Apa yang mendasari terjadinya perubahan isi pada Piagam Jakarta?

Freepik.com Isi Piagam Jakarta dan penjelasan tentang perubahan yang ada di dalamnya. Bobo.id – Piagam Jakarta adalah hal penting yang menjadi bagian dari kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Beberapa bulan sebelum kemerdekaan, dibentuk sebuah badan bernama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

  1. BPUPKI dibentuk untuk mempersiapkan hal-hal dasar dalam mempersiapkan penyelenggaraan negara.
  2. Baca Juga: Makna Pembukaan UUD 1945, Lengkap dari Makna Alinea Ke-1 hingga Alinea Ke-4 Termasuk di dalamnya adalah dasar negara yang saat ini kita kenal dengan nama Pancasila.
  3. Etika sidang pertama BPUPKI berlangsung, seluruh anggota belum bisa menyepakati dasar negara.

Karena itulah dibentuk kepanitiaan bernama Panitia Sembilan. Tugas Panitia Sembilan adalah untuk menampung semua usulan dari para anggota BPUPKI. Melalui Panitia Sembilan inilah akhirnya Piagam Jakarta disetujui dan disahkan pada 22 Juni 1945. Bagaimana isi Piagam Jakarta yang dirancang oleh Panitia Sembilan? Simak selengkapnya di sini! Isi Piagam Jakarta “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

See also:  Mengapa si pitung menjadi kebanggaan masyarakat jakarta hingga saat ini?

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia Merdeka yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Jakarta, 22 Juni 1945 Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Panitia Sembilan Baca Juga: Rumusan Dasar Negara Menurut Soekarno, Asal-usul Lahirnya Pancasila Perubahan Isi Piagam Jakarta Isi Piagam Jakarta mengalami perubahan setelah dibacakan pada proklamasi kemerdekaan di 17 Agustus 1945.

Apa isi dari Piagam Jakarta yang dihapus dalam sila pertama Pancasila?

‘Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Pada tanggal berapakah sila pertama Piagam Jakarta diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa?

Bung Hatta dalam Merevisi Sila “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” –

Dipostkan Oleh Rektorat Telah dibaca 347163 kali

Pada masa Orde Baru, Pancasila ditanamkan dengan dogmatis dan juga difungsikan untuk membungkam pihak-pihak yang mengkritik pemerintah saat itu, meskipun para pengkritik tersebut tidak ada hubungannya dengan paham anti-Pancasila. Semenjak jatuhnya Orde Baru, penggunaan Pancasila sebagai tameng rejim sudah tidak terjadi lagi.

  1. Masyarakat Indonesia menikmati kebebasan dalam berpendapat termasuk kebebasan untuk mengkritik pemerintah yang pada masa Orde Baru mengkritik biasanya akan berakhir dengan kurungan penjara atau kekerasan.
  2. Seriring dengan era kebebasan, pengajaran dogma Pancasila melalui Penataran P4 juga dihentikan yang secara relatif menimbulkan “kekosongan ideologi” pada generasi muda oleh karena pengajaran Pancasila yang sebelumnya dogmatis tersebut tidak digantikan oleh metode lain yang lebih komunikatif dan substantif.

Pada saat yang bersamaan Indonesia menghadapi derasnya arus informasi dari seluruh dunia melalui internet. Berbagai jenis paham (termasuk paham radikal keagamaan) berseliweran dan berinteraksi dengan kalangan muda yang mengalami kekosongan ideologi. Meminjam istilah Melluci, mereka adalah pengembara-pengembara identitas yang mencari jati dirinya dalam pilihan-pilihan identitas yang dibawa oleh internet terutama melalui media sosial.

Pembentukan identitas kelomopok radikal itu akan semakin kuat jika mereka bertemu dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang serupa. Kelompok-kelompok radikal keagamaan tersebut menganut apa yang disebut oleh Melluci sebagai monisme totaliter yang memandang bahwa paham mereka adalah satu-satu paham yang akan membawa kebaikan.

Orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka dianggap sebagai manusia yang derajatlah lebih rendah. Kelompok-kelompok radikal ini ikut menunggangi kontestasi Pilkada DKI Jakarta di tahun 2017 yang diwarnai oleh penggunaan isu SARA secara masif pada level akar rumput untuk menjatuhkan kandidat tertentu.

  • Ujaran-ujaran kebencian diutarakan untuk merendahkan kandidat yang memiliki latar belakang agama dan etnis tertentu.
  • Fenomena tersebut mengajak kita untuk mengingat kembali kesepakatan-kesepakatan dasar dari para pendiri bangsa ketika mereka sepakat untuk mendirikan NKRI.
  • Memandang rendah derajat orang lain yang memiliki suku, agama, dan ras yang berbeda tentu saja pengingkaran yang serius terhadap dasar dari yang paling dasar kesepakatan pendirian republik yaitu kesetaraan dan kebersamaan.

Menurut Bung Karno, lima sila dari Pancasila jika diperas menjadi satu maka ia menjadi Eka Sila yaitu Gotong-Royong. Menurut Bung Karno, ” Gotong Royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.

Kapan penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta?

mengapa sila pertama pada piagam jakarta dirubah Jakarta, Gatra.com – Ketua Umum PP Muhammadiyah KH Haedar Nashir menyinggung soal peristiwa penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang menjadi cikal bakal dari Pancasila. Tujuh kata tersebut ialah “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

  • Menurutnya, tokoh-tokoh Islam yang bertoleransi bersedia menghapus tujuh kata tersebut, seperti Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo merupakan tokoh yang punya jasa besar dalam mengintegrasikan antara keislaman dan kebangsaan.
  • Arena pada tanggal 18 Agustus 1945 ketika ada deadlock 7 kata dalam piagam Jakarta lalu terjadi negosiasi.
See also:  Kapan bioskop kembali buka di jakarta 2021?

Nah peran pak Kasman Singodimedjo, menjembatani dari Bung Karno dan Bung Hatta dengan Ki Bagus Hadikusumo. Dengan demikian maka dua tokoh ini yang punya tanggungjawab dalam peran integrasi nasional antara keislaman dan kebangsaan sehingga sejak itu kita sudah tutup buku,” kata Haedar.

  • I Bagus Hadikusumo yang merupakan tokoh Muhammadiyah dan perwakilan dari kalangan Islam bersedia untuk bersama tokoh Islam lain mencoret tujuh kata dalam piagam Jakarta.
  • Namun, tambah Haedar, mereka meminta agar sila Ketuhanan yang semula pada posisi sila kelima dipindah menjadi sila pertama dan ditambahkan kalimat: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Berdasarkan fakta sejarah tersebut, Haedar Nashir menegaskan bahwa antara keislaman dan keindonesiaan bersenyawa dan tidak ada lagi kontradiksi. “Itu juga jangan dibawa pada kontradiksi oleh siapapun,” tegas Haedar. Saat ini setelah 74 tahun merdeka, tandas Haedar, menjadi tugas bagi umat Islam untuk mewujudkan nilai-nilai keislaman kedalam perdamaian, pembangunan dan kemajuan.

Apa yang mendasari terjadinya perubahan isi pada Piagam Jakarta?

Freepik.com Isi Piagam Jakarta dan penjelasan tentang perubahan yang ada di dalamnya. Bobo.id – Piagam Jakarta adalah hal penting yang menjadi bagian dari kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Beberapa bulan sebelum kemerdekaan, dibentuk sebuah badan bernama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

  • BPUPKI dibentuk untuk mempersiapkan hal-hal dasar dalam mempersiapkan penyelenggaraan negara.
  • Baca Juga: Makna Pembukaan UUD 1945, Lengkap dari Makna Alinea Ke-1 hingga Alinea Ke-4 Termasuk di dalamnya adalah dasar negara yang saat ini kita kenal dengan nama Pancasila.
  • Etika sidang pertama BPUPKI berlangsung, seluruh anggota belum bisa menyepakati dasar negara.

Karena itulah dibentuk kepanitiaan bernama Panitia Sembilan. Tugas Panitia Sembilan adalah untuk menampung semua usulan dari para anggota BPUPKI. Melalui Panitia Sembilan inilah akhirnya Piagam Jakarta disetujui dan disahkan pada 22 Juni 1945. Bagaimana isi Piagam Jakarta yang dirancang oleh Panitia Sembilan? Simak selengkapnya di sini! Isi Piagam Jakarta “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

  1. Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
  2. Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia Merdeka yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar negara Indonesia yang berbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia, yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Jakarta, 22 Juni 1945 Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Panitia Sembilan Baca Juga: Rumusan Dasar Negara Menurut Soekarno, Asal-usul Lahirnya Pancasila Perubahan Isi Piagam Jakarta Isi Piagam Jakarta mengalami perubahan setelah dibacakan pada proklamasi kemerdekaan di 17 Agustus 1945.

Apa yang terjadi jika sila pertama Pancasila tidak diubah?

Jawaban : – Apabila saat itu sila “ketuhanan yang maha esa dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelulk-pemeluknya” tidak di ubah,maka Indonesia di bagian Timur yang mengancam akan mendirikan negara baru akan benar-benar terjadi. Jika sejak dulu tokoh Pendiri Bangsa tidak mementingkan peraatuan dan kesatuan bangsa,maka saat ini Indonesia tidak akan ada.

Adblock
detector