Nama jalan yang ada di jakarta?

nama jalan yang ada di jakarta
Halaman-halaman dalam kategori ‘ Jalan di Jakarta ‘

  • Jalan Jaksa.
  • Jalan Aipda Karel Satsuit Tubun ( Jakarta )
  • Jalan Angkasa ( Jakarta )
  • Jalan Asia Afrika ( Jakarta )
  • Jalan Daan Mogot ( Jakarta )
  • Jalan Gajah Mada.
  • Jalan H. Imam Sapi’ie.
  • Jalan Halim Perdanakusuma ( Jakarta )

More items

Kenapa nama jalan di Jakarta diganti?

JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur DKI Jakarta mengganti 22 nama jalan di Jakarta dengan nama tokoh betawi. Perubahan nama jalan tersebut mengacu pada Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 565 Tahun 2022. Anies mengungkapkan, perubahan nama jalan ini dilakukan guna menghormati para tokoh betawi yang telah banyak berjasa bagi Jakarta maupun Indonesia.

  1. Dari Betawi dilahirkan begitu banyak pribadi-pribadi yang hidupnya memberikan kemajuan,” ujar Anies pada Senin (20/6/2022).
  2. Baca juga: Anies Resmi Ubah 22 Nama Jalan di Jakarta dengan Nama Tokoh Betawi Perubahan nama jalan itu pun lantas menuai pro kontra di masyarakat.
  3. Banyak masyarakat yang keberatan karena merasa repot harus mengubah data kependudukan.

Ada juga warga yang menilai tokoh betawi yang dipilih untuk nama jalan itu tidak mewakili masyarakat setempat. Namun, perubahan nama jalan di Jakarta rupanya tidak hanya terjadi di era Anies Baswedan. Melansir kompas.id, nama jalan di Ibu Kota terus berubah dari masa ke masa, bahkan perubahan sudah dimulai sesaat setelah Indonesia mencapai kemerdekaan.

Tujuannya mulai dari untuk mewujudkan keindonesiaan hingga alasan politis. Baca juga: Warga Tolak Perubahan Nama Jalan, Acara Penyerahan KTP Baru Batal, Wali Kota Jakpus Balik Kanan Candrian Attahiyat, arkeolog sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta, menuturkan, perubahan nama jalan tidak lepas dari kemauan pemimpin yang tengah memimpin suatu daerah atau bahkan negara.

See also:  Bintaro jakarta apa?

Untuk Jakarta, setiap pemimpin mempunyai catatan dalam mengubah atau mengganti nama jalan. “Perubahan besar-besaran ketimbang masa kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan terjadi pada masa Gubernur Militer Jakarta Daan Jahja, pada awal 1948 hingga 1950,” tutur Candrian.

Daan, saat menjabat gubernur, menghadapi banyak persoalan dalam masyarakat Jakarta. Salah satunya berbagai masalah administrasi dalam proses pengembalian pemerintahan Jakarta kepada pola keindonesiaannya. Baca juga: JJ Rizal Sesalkan Perubahan Nama Jalan Warung Buncit, Ini Alasannya Candrian menyebutkan, Daan mengganti lebih dari 130 nama jalan menggunakan bahasa Indonesia.

Penggantian itu efektif mulai 1 Maret 1950 yang berbarengan dengan perubahan akta, nomenklatur, alamat resmi, dan lainnya. “Saya tak tahu ada momentum apa pada 1 Maret itu. Dari 130 jalan itu, penggantiannya, antara lain Waltevreden menjadi Gambir, Meester Cornelis menjadi Jatinegara, Batavia menjadi Jakarta Kota,” katanya.

Lebih jauh, pergantian nama jalan atau tempat sudah berlangsung sejak pendudukan Jepang untuk tujuan politis, yakni merangkul seluruh Indonesia. Namun, pergantian tersebut tak berbarengan dengan perubahan nomenklatur dan lainnya. Baca juga: Ketua DPRD DKI Sebut Perubahan Nama Jalan di Jakarta Tak Dikonsultasikan Terlebih Dahulu Candrian mencontohkan Jalan Noordwijk yang sekarang menjadi Jalan Juanda di Jakarta Pusat.

Pada masa Jepang, sempat bernama Jalan Nusantara. Perubahan menjadi Jalan Juanda terjadi pada 1963 setelah Juanda ditetapkan sebagai pahlawan nasional. “Keputusan pergantian nama setelah tahun 1950 cenderung politis.

Apakah nama jalan Raden Ismail sebelum diganti?

Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi mengubah 22 nama jalan di Jakarta. Namun jika mencarinya lewat aplikasi Google Maps, sebanyak 22 nama jalan tersebut masih belum ada yang berubah. Sebelumnya diberitakan, keputusan pergantian 22 nama jalan di Jakarta berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 565 Tahun 2022 tentang Penetapan Nama Jalan, Gedung, dan Zona dengan Nama Tokoh Betawi dan Jakarta.

  1. Epgub itu ditandatangani Anies pada 17 Juni 2022.
  2. Dari penelusuran detikOto, sebanyak 22 nama jalan yang diubah sesuai Keputusan Gubernur belum ada yang diganti di Google Maps.
  3. Aplikasi peta digital itu masih mengusung nama jalan yang lama.
  4. Misalnya Jalan Raden Ismail yang sebelumnya dikenal dengan nama Jalan Buntu, ketika mencari di Google Maps belum tersedia.
See also:  Bar di jakarta yang terkenal?

Justru yang muncul adalah sebuah komplek perumahan di Pekanbaru, Riau. Begitu juga ketika mencari Jalan H Imam Sapi’ie, yang dahulu dikenal dengan nama Jalan Senen Raya. Ketika mencari di Google Maps tidak ada, justru malah menyarankan Jalan Imam yang berada di Johor Bahru, Malaysia. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan perubahan 22 nama jalan di wilayah Jakarta. Nama-nama jalan itu diambil dari nama tokoh-tokoh Betawi. Foto: Rifkianto Nugroho Sama halnya ketika mencari Jalan Mpok Nori di Google Maps, nama tersebut masih belum tersedia.

  1. Jalan Hj Tutty Alawiyah yang dahulu dikenal dengan nama Jalan Warung Buncit Raya, juga belum diubah namanya ketika mencari di Google Maps.
  2. Secara rinci, ada 22 nama jalan baru yang tersebar di enam wilayah Jakarta.
  3. Berikut 22 nama jalan baru sesuai Keputusan Gubernur DKI Jakarta: Penetapan nama jalan di Jakarta Pusat 1.

Jalan Mahbub Djunaidi, dahulu dikenal dengan nama Jalan Srikaya 2. Jalan Raden Ismail, dahulu dikenal dengan nama Jalan Buntu 3. Jalan A Hamid Arief, dahulu dikenal dengan nama Jalan Tanah Tinggi 1 gang 5 4. Jalan H Imam Sapi’ie, dahulu dikenal dengan nama Jalan Senen Raya 5.

  • Jalan Abdullah Ali, dahulu dikenal dengan nama Jalan SMP 76 6.
  • Jalan M Mashabi, dahulu dikenal dengan nama Jalan Kebon Kacang Raya Sisi Utara 7.
  • Jalan H M Saleh Ishak, dahulu dikenal dengan nama Jalan Kebon Kacang Raya Sisi Selatan 8.
  • Jalan Tino Sidin, dahulu dikenal dengan nama Jalan Cikini VII Penetapan nama Jalan Jakarta Utara 9.

Jalan Mualim Teko, dahulu dikenal dengan nama Jalan depan Taman Wisata Alam Muara Angke Penetapan nama jalan di Jakarta Barat 10. Jalan Syekh Junaid Al Batawi, dahulu dikenal dengan nama Jalan Lingkar Luar Barat dari Pasar Cengkareng ke arah Kamal 11.

See also:  Mengapa jakarta merupakan daerah khusus?

Berapa kota di Jakarta?

Provinsi DKI Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah kotamadya dan satu kabupaten administratif, yakni: Kotamadya Jakarta Pusat dengan luas 47,90 km2, Jakarta Utara dengan luas 142,20 km2, Jakarta Barat dengan luas 126,15 km2, Jakarta Selatan dengan luas 145,73 km2, dan Kotamadya Jakarta Timur dengan luas 187,73 km2, serta