Tanggapan penulis terhadap kemacetan yang terjadi di jakarta adalah?

tanggapan penulis terhadap kemacetan yang terjadi di jakarta adalah
Tanggapan penulis terhadap kemacetan yang terjadi di Jakarta adalah Mendukung warga untuk mencari alternatif lain untuk menanggulangi kemacetan. Menyesalkan pengguna jalan yang tidak taat pada aturan.
Untuk itu,tanggapan penulis terhadap kemacetan yang terjadi di Jakarta adalah penulis menilai bahwa kemacetan terkait dengan banyak hal, sementara aparat dan pemimpin belum menyikapi hal ini secara serius.

Apa yang menyebabkan kemacetan?

S elalu macet. Hampir setiap hari pada jam-jam kerja, jalan raya menuju Senen atau Kramat selalu dilanda oleh macetnya lalu lintas dari arah Gunung Sahari. Sebaliknya, jalan raya dari Kramat menuju Cempaka Putih, pada sore hari, juga kembali dilanda kemacetan.

  • Emacetan itu tidak terjadi baru-baru ini saja, tetapi sudah terekam oleh Kompas edisi Selasa, 23 Desember 1969.
  • Sekian puluh tahun lalu ternyata kemacetan telah melanda ibu kota Jakarta.
  • Apa akar persoalannya? Ternyata, ada hal yang sederhana tetapi tidak sederhana.
  • Emacetan ternyata disebabkan oleh becak-becak yang parkir seenaknya.

Kemacetan juga diperparah oleh bus kota dan bus luar kota yang menaikkan penumpang tanpa mempertimbangkan tanda-tanda atau rambu-rambu yang ada. “Pada saat polisi (ada) di situ, mereka patuh, tetapi setelah polisi itu pergi, mereka semau gue,” demikian dilaporkan oleh Kompas Selasa, 23 Desember 1969.

Telah sejak puluhan tahun silam, Kompas merekam kemacetan di Jakarta. Wartawan Kompas menjadi seolah menulis di dalam air. Kami menulis, tetapi kemacetan terus melanda Jakarta, bahkan menyebar ke sudut-sudut kota. Entah apatis, atau entah apakah tidak ada hasrat lagi bagi kota ini untuk berbenah diri, Jakarta telah terjerat kemacetan selama puluhan tahun.

Selama itu pula, warga kota ini terjebak dalam kemacetan yang sama di ruas-ruas jalan yang sama pula. Kita seolah keledai yang terperosok di lubang persoalan yang sama. Ketika memahami ada terlalu banyak intervensi terhadap mobilitas warga dengan angkutan di jalan raya, kota-kota dunia lainnya berpaling pada angkutan berbasis rel.

Akan tetapi, Jakarta justru tenang-tenang saja. Jakarta tetap saja menggantungkan diri pada angkutan jalan raya. Jakarta pernah punya segalanya, dari oplet, bus tingkat, hingga metromini, tetapi jumlahnya tidak pernah cukup. Layanannya juga tidak pernah prima. Masyarakat pun makin lama makin mengandalkan kendaraan pribadi.

Ketika tingkat keterisian angkutan umum darat makin turun, pada masa silam juga tidak terlihat ada upaya kuat “mengganjalnya”. Pemerintah daerah pun tidak terlihat serius untuk menghadirkan transportasi massal berbasis rel. Beberapa gubernur DKI Jakarta sebenarnya telah mewacanakan pembangunan kereta bawah tanah, tetapi selalu dihadang keterbatasan dana.

  • Sudah begitu, tidak terlihat adanya dukungan kuat dari pemerintah pusat terhadap pembangunan angkutan berbasis rel kereta.
  • Ini sungguh ironis.
  • Pasalnya, ketika jalur kereta pertama di Batavia dibangun pada tahun 1869 untuk menghubungkan Batavia dan Buitenzorg (Bogor), kota-kota lain di Asia belum berpikir membangun jaringan rel kereta api.

Belum pula ada jaringan kereta di Tokyo, Seoul, Beijing, apalagi di Singapura. Batavia pernah selangkah lebih maju untuk menghadirkan angkutan massal berbasis rel, tetapi dalam dekade-dekade selanjutnya justru kian tertinggal. Tertinggal jauh sekali.

See also:  Tuliskan lima departemen store yang ada di jakarta?

Apa yang dimaksud dengan kemacetan diJakarta?

Kemacetan lalu lintas telah menjadi masalah yang kronis di wilayah DKI Jakarta. Nyaris setiap hari masyarakat yang menggunakan moda transportasi darat (kecuali kereta api) di Jakarta dipusingkan oleh kemacetan yang seperti tiada habisnya. Berbagai usaha pemerintah daerah DKI Jakarta untuk mengatasi kemacetan pun telah dilakukan akan tetapi belum membuahkan hasil.

Bahkan kini kemacetan di Jakarta justru bertambah parah. Jika sebelumnya kemacetan hanya terjadi di saat pagi hari (jam berangkat kantor) dan sore hari (jam pulang kantor), kini kemacetan nyaris terjadi sepanjang hari di banyak titik di jalan-jalan di Jakarta. Kemacetan adalah kondisi dimana terjadi penumpukan kendaraan di jalan.

Penumpukan tersebut disebabkan karena banyaknya kendaraan tidak mampu diimbangi oleh sarana dan prasana lalu lintas yang memadai. Akibatnya, arus kendaraan menjadi tersendat dan kecepatan berkendara pun menurun. Rata-rata kecepatan berkendara di Jakarta saat ini berada di kisaran 15 km/jam, yang menurut standar internasional angka ini tergolong sebagai macet.

Angka ini di bawah angka kecepatan berkendara di kota di dunia, seperti misalnya Tokyo. Data ini menunjukkan bahwa kondisi kemacetan di Jakarta cukup parah. Kemacetan ini disebabkan karena melonjaknya jumlah kendaraan bermotor yang ada di Jakarta. Tingginya tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta ini tidak diimbangi oleh meningkatnya sarana dan prasarana lalu lintas yang memadai.

Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta diperkirakan berada di kisaran 5-10% per tahun dengan motor sebagai porsi terbesar penyumbangnya. Berbanding kontras dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, pertumbuhan panjang jalan bahkan kurang dari 1% per tahunnya.

Akibatnya, kendaraan bermotor semakin menumpuk di jalanan Jakarta dan kemacetan pun tidak terhindari. Kemacetan pada akhirnya menimbulkan banyak sekali kerugian terhadap masyarakat dan negara. Kerugian yang paling nyata adalah pemborosan bahan bakar. Pakar Transportasi, Danang Parikesit, menyatakan, menurut survei, masyarakat Jakarta akan menghabiskan 6-8% PDB untuk biaya transportasi.

Padahal idealnya menurut standar internasional adalah 4% dari PDB. Pemborosan ini membuat uang seharusnya digunakan/dialokasikan masyarakat untuk penggunaan lain harus dikeluarkan untuk biaya transportasi. Kondisi ini jelas merugikan masyarakat. Selain itu, kemacetan juga menciptakandampak yang lainnya, yaitu kerusakan lingkungan akibat polusi udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.

  1. Di beberapa titik di jalanan Jakarta tingkat polusi udara telah melebihi batas yang diperbolehkan.
  2. Hal ini disebabkan oleh tingginya jumlah penggunaan kendaraan bermotor dimana setiap kendaraan bermotor pasti mengeluarkan gas buangan.
  3. Semakin banyak jumlah kendaraan bermotor, semakin banyak pula gas buangan dan semakin tinggi pula tingkat polusi udara.

Belum lagiterdapat fakta bahwa masih ada banyak kendaraan tua yang telah berumur lebih dari 10 tahun yang masih melintas di jalanan Ibukota. Karena telah diproduksi puluhan tahun lalu, teknologi yang digunakan pun sudah tertinggal dan akibatnya gas emisi yang dikeluarkan lebih tinggi dari rata-rata kendaraan bermotor yang diproduksi dalam kurun 10 tahun terakhir.

See also:  Sing 2 release date jakarta?

Mengapa kemacetan di kotajakarta semakin semrawut?

Pernahkan Anda terjebak kemacetan dalam waktu yang sangat lama ketika berkendara di Kota Jakarta? Jika pernah, saya rasa Anda akan merasa kesal, stres, dan kadang terbawa emosi ketika mengendarai kendaraan. Kemacetan di Jakarta yang seringkali terjadi memang membuat banyak orang terpaksa menghabiskan waktunya di jalan.

Mungkin ungkapan “tua di jalan” benar adanya bagi sebagian orang yang untuk sampai ke tempat tujuan mesti memakan waktu yang cukup lama. Perkara kemacetan di Kota Jakarta sebenarnya banyak dikeluhkan oleh banyak pihak, terutama oleh para pekerja. Membludaknya jumlah kendaraan pribadi, dan perilaku berkendara yang melanggar hukum seringkali menjadi penyebab mengapa kemacetan Jakarta semakin semrawut.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai kemacetan, ada baiknya kita kenali dulu definisi kemacetan yang umum diketahui. Mengutip Wikipedia, kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu intas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas jalan.

Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutama yang tidak mempunyai transportasi publik atau sistem lalu lintas yang tidak baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk. Di beberapa negara dunia, sering kali terjadi kemacetan yang berlangsung selama berhari-hari, istilah untuk menyebutnya disebut sebagai gridlock.

Gridlock adalah istilah untuk menggambarkan betapa parahnya kemacetan lalu lintas yang seolah-olah terkunci, tanpa ada yang bisa memastikan posisi awal dan akhir kemacetan. Di Indonesia, jika Anda mengingatnya, ada sebuah peristiwa kemacetan yang dikategorikan sebagai Gridlock.

  1. Peristiwa terjadinya kemacetan selama beberapa hari tersebut terjadi pada 2016 tepatnya di pintu keluar tol Brebes, kemacetan di pintu keluar tol tersebut berlangsung selama beberapa hari, dan memakan korban jiwa.
  2. Berbagai kebijakan untuk mengatasi kemacetan di Kota Jakarta sudah sering dibuat, baik kebijakan jangka panjang maupun jangka pendek.

Salah satu kebijakan jangka pendek seperti 3 in 1 yang pernah diterapkan, dan kebijakan jangka pendek yang masih diterapkan hingga saat ini ialah ganjil-genap. Padahal, kebijakan ganjil-genap yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak berdampak signifikan terhadap pengurangan wilayah kemacetan di ibukota.

  1. Sebab, kebijakan tersebut hanya memindahkan kemacetan dari ruas jalan yang diberlakukan ganjil-genap ke ruas jalan yang tidak diberlakukan ganjil-genap, Sehingga kemacetan tetap saja terjadi tetapi hanya beda ruas jalan saja.
  2. Lalu kebijakan jangka panjang untuk mengatasi kemacetan di Jakarta berupa perbaikan transportasi publik agar pengguna kendaraan pribadi bisa beralih moda transportasi, dan juga pembangunan beberapa ruas jalan baru di ibukota.

Sebenarnya, mengatasi kemacetan di perkotaan dengan membangun jalan baru, misalnya jalan tol atau jalan layang non tol, tidaklah menyelesaikan masalah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Anthony Downs pada tahun 1994 menyatakan bahwa pembangunan jalan baru, berapa pun panjangnya, tak akan menyelesaikan masalah kemacetan di kota-kota besar.

See also:  Perkampungan betawi yang dibangun oleh pemerintah dki jakarta adalah?

Apa yang menyebabkan kemacetan di kota besar?

Pernahkan Anda terjebak kemacetan dalam waktu yang sangat lama ketika berkendara di Kota Jakarta? Jika pernah, saya rasa Anda akan merasa kesal, stres, dan kadang terbawa emosi ketika mengendarai kendaraan. Kemacetan di Jakarta yang seringkali terjadi memang membuat banyak orang terpaksa menghabiskan waktunya di jalan.

Mungkin ungkapan “tua di jalan” benar adanya bagi sebagian orang yang untuk sampai ke tempat tujuan mesti memakan waktu yang cukup lama. Perkara kemacetan di Kota Jakarta sebenarnya banyak dikeluhkan oleh banyak pihak, terutama oleh para pekerja. Membludaknya jumlah kendaraan pribadi, dan perilaku berkendara yang melanggar hukum seringkali menjadi penyebab mengapa kemacetan Jakarta semakin semrawut.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai kemacetan, ada baiknya kita kenali dulu definisi kemacetan yang umum diketahui. Mengutip Wikipedia, kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu intas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas jalan.

Emacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutama yang tidak mempunyai transportasi publik atau sistem lalu lintas yang tidak baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk. Di beberapa negara dunia, sering kali terjadi kemacetan yang berlangsung selama berhari-hari, istilah untuk menyebutnya disebut sebagai gridlock.

Gridlock adalah istilah untuk menggambarkan betapa parahnya kemacetan lalu lintas yang seolah-olah terkunci, tanpa ada yang bisa memastikan posisi awal dan akhir kemacetan. Di Indonesia, jika Anda mengingatnya, ada sebuah peristiwa kemacetan yang dikategorikan sebagai Gridlock.

Peristiwa terjadinya kemacetan selama beberapa hari tersebut terjadi pada 2016 tepatnya di pintu keluar tol Brebes, kemacetan di pintu keluar tol tersebut berlangsung selama beberapa hari, dan memakan korban jiwa. Berbagai kebijakan untuk mengatasi kemacetan di Kota Jakarta sudah sering dibuat, baik kebijakan jangka panjang maupun jangka pendek.

Salah satu kebijakan jangka pendek seperti 3 in 1 yang pernah diterapkan, dan kebijakan jangka pendek yang masih diterapkan hingga saat ini ialah ganjil-genap. Padahal, kebijakan ganjil-genap yang dibuat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak berdampak signifikan terhadap pengurangan wilayah kemacetan di ibukota.

  1. Sebab, kebijakan tersebut hanya memindahkan kemacetan dari ruas jalan yang diberlakukan ganjil-genap ke ruas jalan yang tidak diberlakukan ganjil-genap, Sehingga kemacetan tetap saja terjadi tetapi hanya beda ruas jalan saja.
  2. Lalu kebijakan jangka panjang untuk mengatasi kemacetan di Jakarta berupa perbaikan transportasi publik agar pengguna kendaraan pribadi bisa beralih moda transportasi, dan juga pembangunan beberapa ruas jalan baru di ibukota.

Sebenarnya, mengatasi kemacetan di perkotaan dengan membangun jalan baru, misalnya jalan tol atau jalan layang non tol, tidaklah menyelesaikan masalah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Anthony Downs pada tahun 1994 menyatakan bahwa pembangunan jalan baru, berapa pun panjangnya, tak akan menyelesaikan masalah kemacetan di kota-kota besar.