Transportasi di jakarta yang sudah punah adalah?

transportasi di jakarta yang sudah punah adalah
Mengenang 5 Transportasi Jadul Jakarta yang Sudah Punah

  • 1. Trem Batavia. Transportasi ini eksis di Batavia mulai tahun 1869 hingga tahun 1960.
  • 2. Bus Tingkat Moda transportasi ini eksis di Jakarta sejak tahun 1968.
  • 3. Helicak Helicak merupakan moda transportasi yang eksis di Jakarta pada tahun 1970-an. Nama helicak berasal dari gabungan kata helikopter dan becak.
  • 4. Oplet
  • 5. Bemo.

Apakah bus Kopaja masih ada?

Metromini dan Kopaja – Andri Donnal Putera Sejumlah bus metromini masih berada di lapangan tempat penampungan kendaraan di pool Rawa Buaya, Jakarta Barat, Selasa (15/3/2016) siang. Kebanyakan bus metromini yang dikandangkan merupakan hasil penertiban Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta pada Desember 2015 lalu.

  1. Metromini atau Kopaja dulunya sempat menjadi primadona transportasi umum di DKI Jakarta sebelum terdapat moda transportasi umum massal seperti commuter line, Transjakarta, Mass Rapid Transit (MRT), dan Light Rail Transit (LRT).
  2. Bus ini menjamur di berbagai terminal seperti terminal Lebak Bulus, Kampung Rambutan, Blok M dan masih banyak terminal lainnya.

Trayek metromini pun banyak dan jangkauan rutenya panjang. Meski begitu ongkosnya murah kisaran Rp 2.000- Rp 7.000 saja. Hal inilah yang membuat Metromini atau Kopaja ini dilirik penumpang. Meski begitu, sayangnya keberadaan metromini sempat menjadi kontroversi karena banyak sopir yang ugal-ugalan dan tingkat kriminalitas dalam bus yang tinggi.

Shindunata. (2006). Manusia & Keseharian: Burung Burung di Bundaran HI, Jakarta: PT Kompas Gramedia Lubis, Firman. (2008). Jakarta 1950-an Kenangan Masa Remaja, Jakarta: Masup Jakarta

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

See also:  Jakarta samarinda naik pesawat apa?

Kapan Metro Mini berhenti beroperasi?

Dalam sehari, Yana dulu bisa mencuci lima bus dengan tarif Rp 10 ribu per kendaraan. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nasib para pekerja bus Metro Mini kini terlantar akibat PT Metro Mini telah menghentikan operasionalnya sejak 2019. Penyebab penghentian operasional selain kendaraan yang dinilai tak laik jalan, kondisi manajemen juga tidak beres.

  • Alhasil proses integrasi bus Metro Mini agar bisa di bawah naungan PT Transjakarta tidak pernah terwujud.
  • Salah seorang pekerja Metro Mini, Yana (63 tahun) mengaku, terpaksa harus menjadi pemulung demi bertahan di Ibu Kota.
  • Sudah setahun lamanya Yana menunggu ketidakpastiaan dari manajemen Metro Mini untuk diberdayakan agar terintegrasi dengan Transjakarta.

“Saya dulu nyuci mobil, terus ikut jadi kernet. Sekarang karena enggak ada kerjaan jadi pemulung barang rongsokan,” kata Yana di Jakarta Timur pada Jumat (7/8). Dalam sehari, ia bisa mencuci tak kurang dari lima bus dengan tarif Rp 10 ribu setiap kendaraan.

Ondisi perekonomiannya tercukupi meski hanya mengantungkan pekerjaan yang memberikan pendapatan setidaknya Rp 50 ribu per hari. “Dulu masih alhamdulillah. Karena kan sehari bisa nyuci lima sampai 10 bus. Ada juga tambahan kalau saya ikutan narik,” ujar Yana mengenang pengalaman manis beberapa tahun lalu.

Kemudian, penghasilannya anjlok sejak Metro Mini tidak lagi beroperasi. Hal itu lantaran manajemen PT Metro Mini yang diajak bergabung dengan PT Transjakarta dengan mengikuti layanan yang ditetapkan, tak kunjung bisa memenuhi standar operasional prosedur (SOP) yang ditetapkan.

Sejak saat itu, ia terpaksa menjadi pemulung, mencari barang rongsokan di sekitar Cakung, Jakarta Timur. “Penghasilannya sekarang enggak menentu. Dapat Rp 15 ribu per pekan juga belum tentu,” kata Yana. Kendati menjadi pemulung, Yana tetap semangat menjalani hidup. Dia berharap agar permasalahan dalam internal manajemen PT Metro Mini dapat terselesaikan.

Sehingga, ia dan pekerja lainnya bisa kembali menarik penumpang dan memperoleh pendapatan tetap. Salah satu perusahaan milik swasta di bidang jasa transportasi, PT Metro Mini telah menghentikan operasionalnya sejak 2019. Salah seorang pemilik saham PT Metro Mini, Yutek Sihombing mengatakan, kondisi manajemen perusahaan sangat berantakan.

See also:  Stasiun kereta api besar yang ada di jakarta adalah?

Siapa pemilik Kopaja?

“Dua anak saya masih ikut sama saya. Anak yang lain saya juga masih suka bantu. Cucu saya ada sembilan. Bayangkan, jadi tulang punggung zaman sekarang itu berat,” ucapnya. Profesi yang berat Rekan Syafrizal, Herman Nasution (38), menyebut profesi sebagai sopir metromini kian berat untuk dijalani.

Pemilik metromini pun memilih untuk mengandangkan armadanya “Metromini S69 yang beroperasi tinggal 26 saja. Dulu ada 65 yang beroperasi. Sejak tiga tahun lalu menurun drastis. Nggak ada sopir yang bawa karena sepi sewanya,” kata Herman. Belum lagi label di metromini rawan kejahatan diakui Herman kian membuat jumlah penumpang makin merosot.

“Kalau kami insiden nabrak orang, beritanya seminggu nggak kelar. Kami dituduh ugal-ugalan. Dikatakan armada sudah nggak layak dan omongan miring lain. Sedangkan kalau bus Transjakarta nabrak, nggak ada beritanya,” tegas Herman. Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan MetroMini bernomor polisi B 7921 EM dan dua sepeda motor, terjadi di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (22/12/2017) pagi. (Dokumentasi Polres Jakarta Selatan) Rusmanto, pemilik sekaligus sopir Kopaja T502 menyatakan sewa hanya ramai pada jam berangkat dan pulang kerja.

Pantauan Warta Kota, Kopaja T502 cuma diparkir di terminal pada siang hari. Menjelang sore, mereka baru aktif lagi. “Kami hanya bisa empat kali angkut penumpang, pergi dan pulang saat pagi dan sore. Pendapatan juga turun, jauh sekali perbedaannya. Dulu saya dapat bersih bisa Rp 600.000 sehari, itu sudah sama solar, makan, dan setoran ya.

Kalau sekarang bisa dapat Rp 300.000 saja sudah Alhamdulillah,” ucapnya. Pengusaha bus yang memiliki tiga armada Kopaja itu membenarkan kalau sepinya penumpang terjadi sejak menjamurnya ojek online. “Sepi bukan gara-gara banyak bus Transjakarta meski beberapa trayek ada yang sama dengan kami. Sejumlah taksi dan ojek online berhenti atau ngetem menunggu penumpang saat bubaran perkantoran di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Kamis (3/1/2019). (Warta Kota/Henry Lopulalan)