Yang memimpin jakarta informal meeting jim tahun 1988 adalah?

yang memimpin jakarta informal meeting jim tahun 1988 adalah
BERITA LAINNYA – 07 March 2022 – Peran Indonesia dalam Menciptakan Perdamaian di Kamboja melalui Jakarta Informal Meeting Oleh Alicia Josefanny Dalam pelaksanaan hubungan internasional, Indonesia tidak hanya aktif dalam mengikuti berbagai organisasi internasional. Namun, Indonesia juga berpartisipasi secara aktif dalam membantu penyelesaian sebuah konflik antar negara. Dalam perannya, Indonesia semaksimal mungkin bersikap netral dan tidak memihak pada salah satu pihak.

  • Selain itu, Tindakan yang dilakukan Indonesia ini juga bertujuan untuk menjalin silaturahmi apabila sewaktu-waktu Indonesia memerlukan bantuan balik.
  • Partisipasi Indonesia dalam upaya menyelesaikan konflik dapat terlihat dari keikutsertaannya pada Jakarta Informal Meeting atau JIM.
  • Jakarta Informal Meeting merupakan sebuah pertemuan yang diadakan oleh Indonesia dalam rangka untuk menyelesaikan sebuah konflik.

Pelaksanaan Jakarta Informal Meeting dilatarbelakangi oleh adanya peristiwa penggulingan kekuasaan pemerintah yang terjadi di Kamboja. Peristiwa itu terjadi saat perang antara Kamboja dengan Vietnam masih berlangsung. Konflik itu mendorong Indonesia untuk berpartisipasi dalam proses penyelesaiannya.

Jakarta Informal Meeting dilakukan sebanyak dua kali. Jakarta Informal Meeting I dilaksanakan di Bogor pada 5-28 Juli 1988 dan Jakarta Informal Meeting II dilaksanakan di Jakarta pada 19-21 Februari 1989. Perang besar yang terjadi antara Kamboja dan Vietnam selama bertahun-tahun menyebabkan banyaknya korban jiwa.

Konflik antara Kamboja dan Vietnam dipicu oleh pergolakan dan besarnya ketegangan politik dalam negeri. Perang antara Republik Sosialis Vietnam melawan Pemerintah Demokratik Kamboja berlangsung sejak tahun 1975. Puncak penyerangan Vietnam terhadap Pemerintahan Demokratik Kamboja terjadi pada 25 Desember 1978 yang berhasil menjatuhkan pemerintahan Pol Pot.

Berawal ketika terjadi pergantian pemerintahan dari Lon Nol ke rezim Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot. Pemerintahan Pol Pot memiliki program menjadikan negara Kamboja sebagai negara agraris. Tetapi program tersebut tidak berhasil sehingga menyebabkan kelaparan dan wabah penyakit serta pembantaian massal oleh rezim Khmer Merah.

Hal tersebut mengakibatkan pembantaian warga keturunan Vietnam di Kamboja yang akhirnya membuat Vietnam menyerang Kamboja dengan tujuan untuk menghentikan pembantaian tersebut. Vietnam mengirim 150.000 tentara untuk menyerang Kamboja dan berhasil menjatuhkan pemerintahan Khmer Merah.

  • Lalu dilakukan pengangkatan pemimpin Kamboja dibawah kekuasaan Vietnam yaitu Heng Samrin.
  • Sejak itu, terjadi perang saudara antara kelompok bersenjata di Kamboja dan pemerintahan yang didukung oleh pasukan Vietnam.
  • Perang antara Kamboja dan Vietnam mengakibatkan terancamnya keamanan politik di kawasan asia tenggara.
See also:  Daerah yang kena ganjil genap di jakarta?

Konflik di Kamboja yang berkepanjangan membuat negara-negara di asia tenggara yang bergabung dalam ASEAN mendukung dan mempercayai Indonesia sebagai penengah dalam menyelesaikan proses perdamaian di Kamboja.

Siapa pendiri Jim?

Latar Belakang Jakarta Informal Meeting – Kamboja dan Vietnam merupakan dua negara yang sudah berkonflik cukup lama hingga menelan banyak korban. Mengutip jurnal ilmiah berjudul Peran Indonesia dalam Proses Penyelesaian Konflik Kamboja (Periode 1984-1991) yang ditulis oleh Maradona Runtukahu, konflik antara Kamboja dan Vietnam dipicu oleh pergolakan dan besarnya ketegangan politik dalam negeri.

Puncak konflik Kamboja-Vietnam terjadi pada akhir 1978 ketika terjadi bentrokan antara rezim Khmer Merah dengan Vietnam. Dalam bentrokan tersebut terjadi pembantaian warga keturunan Vietnam di Kamboja yang membuat Vietnam akhirnya menyerbu Kamboja dengan tujuan menghentikan genosida tersebut. Rezim Khmer Merah pun akhirnya berhasil digulingkan berkat invasi Vietnam pada Januari 1979.

Kemudian, Vietnam mendirikan rezim baru di Kamboja yang dipimpin oleh Heng Samrin. Namun, tindakan ini tentu mendapat penolakan dari berbagai pihak Kamboja dan menyebabkan perang yang terus berlanjut dan terus memakan korban tanpa ada tanda-tanda penyelesaian.

Pada tahun berapakah Jim dilakukan?

Pelaksanaan Jakarta Informal Meeting I dan II menjadi mediasi penyelesaian masalah antara Vietnam dan Kamboja. JIM I dilaksanakan di Bogor, pada tanggal 25 – 28 Juli 1988dan JIM II juga dilaksanakan di Bogor, pada tanggal 11 Februari 1989. Hasil JIM I dan JIM II kemudian ditindaklanjuti dengan diadakannya Perjanjian Paris yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas.

Dengan demikian, Menteri yang menyampaikan hasil pelaksanaan JIM I dan JIM II adalahAli Alatas. – Pelaksanaan Jakarta Informal Meeting I dan II menjadi mediasi penyelesaian masalah antara Vietnam dan Kamboja. JIM I dilaksanakan di Bogor, pada tanggal 25 – 28 Juli 1988 dan JIM II juga dilaksanakan di Bogor, pada tanggal 11 Februari 1989.

See also:  Apa keterkaitan antara piagam jakarta dan uud 1945?

Hasil JIM I dan JIM II kemudian ditindaklanjuti dengan diadakannya Perjanjian Paris yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas. Dengan demikian, Menteri yang menyampaikan hasil pelaksanaan JIM I dan JIM II adalah Ali Alatas.

Pada tahun berapakah Jim dilakukan?

Pelaksanaan Jakarta Informal Meeting I dan II menjadi mediasi penyelesaian masalah antara Vietnam dan Kamboja. JIM I dilaksanakan di Bogor, pada tanggal 25 – 28 Juli 1988dan JIM II juga dilaksanakan di Bogor, pada tanggal 11 Februari 1989. Hasil JIM I dan JIM II kemudian ditindaklanjuti dengan diadakannya Perjanjian Paris yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas.

  • Dengan demikian, Menteri yang menyampaikan hasil pelaksanaan JIM I dan JIM II adalahAli Alatas.
  • Pelaksanaan Jakarta Informal Meeting I dan II menjadi mediasi penyelesaian masalah antara Vietnam dan Kamboja.
  • JIM I dilaksanakan di Bogor, pada tanggal 25 – 28 Juli 1988 dan JIM II juga dilaksanakan di Bogor, pada tanggal 11 Februari 1989.

Hasil JIM I dan JIM II kemudian ditindaklanjuti dengan diadakannya Perjanjian Paris yang disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas. Dengan demikian, Menteri yang menyampaikan hasil pelaksanaan JIM I dan JIM II adalah Ali Alatas.