Mengapa Mimpi Bisa Terjadi Psikoanalisis?

Mengapa Mimpi Bisa Terjadi Psikoanalisis
Page 3 – Ada banyak teori dalam psikologi yang mencoba menjelaskan, Salah satu orang yang mencoba menjelaskan mimpi tersebut adalah, yang memiliki teori bahwa mimpi adalah manifestasi dari keinginan bawah sadar kita. Dalam psikoanalisis, Freud mengatakan bahwa mimpi muncul ketika seseorang tanpa sadar memenuhi keinginan dan mencoba untuk meredakan ketegangan dengan membayangkan tujuan yang diinginkan.

  1. Arena di alam kesadaran, sulit untuk mengungkapkannya.
  2. Dalam psikologi terjadi dengan menampilkan 2 sisi:1.
  3. Gambaran yang kamu ingat saat terjaga dan muncul ke dalam pikiran ketika kamu mencoba mengingatnya.2.
  4. Sesuatu yang tersembunyi berupa keinginan dan pikiran yang tersembunyi dan tidak disadari.
  5. Namun, bisa jadi berisi konflik yang menjadi penyebab munculnya mimpi tersebut.

Jenis mimpi yang dapat Anda alami tampaknya tidak ada hubungannya dengan dunia misterius. Dalam psikologi, beberapa jenis mimpi ini memiliki implikasi yang berkaitan dengan keadaan mental dan kondisi eksternal Anda, seperti pikiran yang selalu kita miliki, keinginan yang tidak dapat kita arahkan, dan masalah masa lalu yang belum terpecahkan.

Apa itu mimpi dalam psikologi?

Manusia sudah bermimpi berabad-abad silam, tepatnya sejak spesies ini mengembangkan sebuah daerah temporal dan pons. Akan tetapi, tidak ada tokoh yang lebih tertarik dan lebih antusias terhadap topik ‘mimpi’ daripada Sigmund Freud sampai pada abad 20.

Freud menjadi sosok paling berpengaruh, tidak hanya di kajian Psikologi, tetapi juga di seluruh dunia. Lebih dari 320 buku, artikel dan esai yang ditulis Freud membawa dirinya masuk dalam kategori 100 tokoh paling berpengaruh sepanjang masa (Hart, 2003). Pengembangan konsep teori mimpi yang diajukan Freud tidak terlepas dari perjalanan personal yang dialaminya.

Beberapa di antaranya seperti pengalaman pribadi, pengalaman rekan, kolega maupun kliennya. Ketertarikannya pada literatur klasik seperti Shakespeare, Charcot dan Mesmer juga turut berpengaruh terhadap teori yang dia ajukan. Tidak jarang istilah-istilah, seperti Komplek Oedipus, turut muncul di dalam tulisan Freud (Zaviera, 2016).

  1. Sebelum dapat memahami tentang konsep mimpi, Freud turut menyampaikan teori tiga tingkatan kesadaran, yakni Sadar ( Conscious ), Pra Sadar ( Preconscious ) dan Tak Sadar ( Unconscious ).
  2. Berdasarkan tingkatan tersebut, masih dijelaskan kembali mengenai prinsip Id, Ego dan Superego.
  3. Secara singkat, Id adalah bagian dari diri manusia yang berisi insting-insting primitif yang tidak mengenal norma dan aturan.

Superego adalah segala tuntutan dan aturan normatif yang berkaitan dengan harapan masyarakat agar seseorang berperilaku tertentu. Sementara Ego adalah jembatan kesadaran serta hakim dari perilaku yang diarahkan ke dunia luar dari perdebatan internal Id dan Superego.

  1. Pada saat manusia bermimpi, letak kesadaran manusia berada di tingkat pra sadar.
  2. Di mana Id dan Superego lebih banyak berperan dibanding dengan Ego.
  3. Tidak jarang bahkan keinginan terpendam dapat muncul melalui mimpi.
  4. Dalam bukunya, Interpretation of Dream (1914), Freud menjelaskan bahwa mimpi merupakan jembatan antara dunia eksternal dengan perasaan, kesan maupun keinginan terpendam (terepresi).

Mimpi adalah pemenuh keinginan dari apa yang tidak mampu terwujudkan di dunia ekternal. Mimpi merupakan proses somatik ketika tidur yang berfungsi menjaga mental dari ketegangan. Ada pun mimpi tidak bisa muncul begitu saja. Mimpi memerlukan bahan-bahan yang perlu dirakit untuk dimunculkan di dalam tidur.

Bahan-bahan tersebut seperti kesan terbaru, kesan acuh tak acuh, pengalaman masa kecil sampai rangsangan somatik. Rangsangan somatis yang dimaksud adalah stimulus fisiologis yang diberikan ketika tidur yang kemudian ikut terekspresikan di dalam mimpi. Stimulus tersebut dapat dari internal, seperti organ tubuh ataupun eksternal, seperti disiram air, didengarkan lagu maupun kondisi tempat tidur.

Bahan-bahan tersebut diolah, kemudian disesuaikan dengan kondisi mental individu. Ibarat hendak memasak suatu makanan tertentu, maka kita akan menyesuaikan resep dengan bahan yang ada di kulkas. Terkadang ada bahan yang tidak tersedia, mungkin karena habis, terlalu sedikit atau memang sulit didapatkan.

  • Emudian kita memanipulasi resep, agar dari bahan-bahan yang ada di dalam kulkas itu dapat lebih dekat dengan makanan ideal yang hendak kita masakkan.
  • Demikian pula mimpi mengolah bahan-bahan abstrak tersebut, mencampur dan merakitnya agar dapat lebih diterima oleh akal sehat kita.
  • Interpretasi mimpi digunakan oleh perspektif Psikoanalisis untuk mengetahui kondisi mental seorang individu, serta menjadi sarana intervensinya.

Seorang psikoanalis biasanya akan meminta kliennya menceritakan mimpinya, kemudian dilanjutkan dengan menceritakan apapun yang terlintas di pikiran klien tersebut. Proses ini dikenal juga sebagai asosiasi bebas. Psikoanalis akan melakukan kondensasi, yakni proses memadatkan dan mengolah pikiran-pikiran laten dari mimpi tersebut untuk mendapatkan kandungan manifes dari mimpi (arti mimpi itu sendiri) (Freud, 1901).

  • Interpretasi mimpi bukanlah hal yang mudah dilakukan.
  • Diperlukan jam terbang bahkan oleh profesional sekalipun.
  • Meskipun begitu, mencatat mimpi setiap kali bangun tidur tidak ada salahnya.
  • Dengan mencatat mimpi, kita bisa melihat jejak mimpi dan membantu memahami mimpi kita sendiri.
  • Selain itu, barangkali pembaca juga akan menemukan hal-hal unik yang muncul di dalam mimpi (Bulkeley, 2017).

Akan tetapi, pembaca perlu menulis mimpi tersebut secepat mungkin setelah bangun tidur, kendati mimpi sangat rentan terlupakan. Semakin lama tidak tertulis, semakin mudah mimpi tersebut mengalami distorsi, sehingga tidak otentik lagi. Referensi Bulkeley K.

(2017). Keeping a Dream Journal, URL: https://www.psychologytoday.com/us/blog/dreaming-in-the-digital-age/201705/keeping-dream-journal diakses pada 2 Mei 2021 pukul 19:38 Freud, S. (2019). The Interpretation of Dreams (Trans. Supriyanto Abdullah). Indoliterasi. (Original Work published at 1914). Freud, S. (2020).

Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari, Forum. (Original Work published at 1901) Hart,M. (2003). The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History, Golden Books Centre. Zaviera, F. (2016). Teori Kepribadian Sigmund Freud, Ar-Ruzz Media

Apa yang dimaksud dengan analisis mimpi dalam pendekatan psikoanalisis?

Analisis mimpi adalah teknik yang digunakan para Psikoanalis untuk memaknai mimpi seseorang. Para psikoanalisis percaya bahwa mimpi memuat informasi mengenai pikiran-pikiran yang tidak disadari, harapan-harapan, dan konflik (Andreda, 2007). Dari sudut pandang ini, mimpi menyediakan bagian tidak disadari sebuah kesempatan untuk mengekspresikan harapan yang tidak disadari, sebuah teater mental dimana harapan-harapan paling dalam dan paling rahasia dapat muncul.

  • Freud membedakan antara isi mimpi yang termanifestasi dan isi laten.
  • Isi mimpi yang termanfestasi adalah istilah dalam psikoanalisis untuk aspek-aspek mimpi yang diingingat dan disadari.
  • Contohnya, bila anda bangun disuatu pagi dan mengingat sebuah mimpi tentang kembali duduk di kelas dua dengan guru yang membentak anda karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah, maka ini merupakan isi termanifestasi dalam mimpi anda.

Isi laten adalah bagian mimpi yang tidak diingat dan tidak disadari, aspek-aspek tersembunyi ini dismbolkan oleh isi termanifestasi. Untuk memahami makna dari mimpi anda, seorang psikoanalisis mungkin akan meminta anda untuk melakukan asosiasi bebas pada setiap elemen pada isi termasnifestasi: apa yang muncul dipikiran anda ketika kembali di kelas dua? Apa yang anda pikirkan ketika melihat guru anda? Menurut Freud, makna laten terikat di dalam bagian pikiran yang tidak disadari dari orang yang bermimpi.

  • Tujuan analisis adalah untuk melepaskan makna rahasia ini dengan bertanya pada lapisan pikiran orang yang lebih dalam.
  • Psikoanalis memaknai mimpi dengan menganalisis isi termanifestasi untuk mencari kebutuhan-kebutuhan dan harapan yang tampil secara samar, terutama yang bersifat seksual dan agresif.
  • Simbol-simbol mimpi dapat berarti berbeda pada orang yang berbeda.

Contoh dari simbol seksual yang digunakan para psikoanalisis untuk memaknai mimpi mereka. Namun, hal ini harus diperhatikan, karena Freud menyadari bahwa makna sesungguhnya dari setiap simbol mimpi tergantung dari sipemimpi. Seperti yang disebutkan olehnya, “terkadang rokok hanyalah sebuah rokok.” Freud percaya bahwa transferen tidak dapat dihindarkan dan merupakan aspek dari hubungan analis dan pasien.

  • Transferens adalah istilah psikoanalisis untuk cara-cara individu berhubungan dengan analis yang menghasilkan kembali hubungan-hubungan penting dalam kehidupan individu.
  • Seseorang mungkin berinteraksi dengan analis seolah-olah analis adalah orang tua atau pasangan hidup, misalnya.
  • Munurt freud, transferens bagian penting dalam hubungan psikoanalisis.

Transferens dapat digunakan secara terapiutik sebagai sebuah model bagaimana individu berhubungan dengan orang-orang yang penting dalam kehidupannya (Corradi, 2006) REFRENSI : King, Laura A. (2010). PSIKOLOGI UMUM Sebuah Pandangan Apresiatif. Salemba Humanika: Jakarta. Lihat Humaniora Selengkapnya Beri Komentar Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Bagaimana pandangan psikoanalisis terhadap kepribadian manusia?

Teori Kepribadian Sigmund Freud Biografi Sigmund Freud Bapak Psikoanalisis Sigmund Freud lahir di Moravia, 6 mei 1856 dan meninggal di London, 23 september 1939 berasal dari keluarga Yahudi. Tahun 1873-1881 masuk Fakultas Kedokteran Universitas Wina pada spesialisasi dokter ahli syaraf dan penyakit jiwa (psikiatri). Pada tahun 1894 Freud belajar terapi histeri pada Jean Caharcot di Paris. Tahun 1895 ia kembali ke Wina bekerja sama dengan Dr. Joseph Breuer, dengan metode asosiasi bebas. Tahun 1895 Freud bersama Breuer menulis tentang kasus-kasus histeri. Tahun 1902 ia membentuk kelompok psikologi di Wina. Tahun 1908 Freud diundang oleh George Stanley Hall ke USA dan memberi ceramah-ceramah pada pertemuan-pertemuan Dies Natalis Universitas Clark. Freud menjadi terkenal di seluruh dunia. Tahun 1909 Freud digabungi oleh Alfred Adler dan Carl Gustav Jung. Tahun 1923 Freud kena penyakit kanker rahang dan pernah dioperasi sampai 30 kali. Tahun 1928 Nazi berkuasa di Austria, Freud menyingkir ke Inggris dan meninggal dunia di London 1939. Dasar Teori Psikoanalisis Sigmund Freud Peran penting dari ketidaksadaran beserta insting-insting seks dan agresi yang ada di dalamnya dalam pengaturan tingkah laku, menjadi karya/temuan monumental Freud. Sistematik yang dipakai Freud dalam mendiskripsi kepribadian menjadi tiga pokok yaitu: struktur kepribadian, dinamika kepribadian, dan perkembangan kepribadian. Struktur Kepribadian Kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran: sadar, prasadar, dan tak sadar. Pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yakni: id, ego dan super-ego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama tetapi melengkapi/menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya. Tingkat Kehidupan Mental Sadar (Conscious) Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental (fikiran, persepsi, perasaan, dan ingatan) yang masuk ke kesadaran (consciousness). Prasadar (Preconscious) Prasadar disebut juga ingatan siap (available memory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan tak sadar. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah prasadar. Taksadar (Unconscious) Taksadar adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran dan menurut Freud merupakan bagian terpenting dri jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan empirik. Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls, dan drives yang dibawa dari lahir, dan pengalam-pengalaman traumatik (biasanya pada masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah tak sadar. Wilayah Pikiran 1. Id (Das Es) Id adalah sistem kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologi yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah tak sadar, mewakili subjektivitas yang tidak pernah sisadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya. Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Plesure principle diproses dengan dua cara : a. Tindak Refleks (Refleks Actions) Adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengejapkan mata dipakai untuk menangani pemuasan rangsang sederhana dan biasanya segera dapat dilakukan.b. Proses Primer (Primery Process) Adalah reaksi membayangkan/mengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan – dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya. Id hanya mampu membayangkan sesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-benar salah, tidak tahu moral. Alasan inilah yang kemudian membuat id memunculkan ego.2. Ego (Das Ich) Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle) usaha memperoleh kepuasan yang dituntut id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan. Ego adalah eksekutif atau pelaksana dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama ; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari id.3. Superego (Das Ueber Ich) Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik (edialistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsip realistik dari ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego, ia tak punya sumber energinya sendiri. Akan tetapi, superego berbeda dari ego dalam satu hal penting – superego tak punya kontak dengan dunia luar sehingga tuntutan superego akan kesempurnaan pun menjadi tidak realistis. Prinsip idealistik mempunyai dua sub prinsip yakni suara hati (conscience) dan ego ideal. Freud tidak membedakan prinsip ini secara jelas tetapi secara umum, suara hati lahir dari pengalaman-pengalaman mendapatkan hukuman atas perilaku yang tidak pantas dan mengajari kita tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan, sedangkan ego ideal berkembang dari pengalaman mendapatkan imbalan atas perilaku yang tepat dan mengarahkan kita pada hal-hal yang sebaiknya dilakukan. Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam fikiran. Ada tiga fungsi superego ; (1) mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan moralistik, (2) merintangi impuls id terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan standar nilai masyarakat, (3) mengejar kesempurnaan. Dinamika Kepribadian Dalam dinamika kepribadian, Freud menjelaskan tentang adanya tenaga pendorong (cathexis) dan tenaga penekanan (anti–cathexis). Kateksis adalah pemakaian energi psikis yang dilakukan oleh id untuk suatu objek tertentu untuk memuaskan suatu naluri, sedangkan anti-kataeksis adalah penggunaan energi psikis (yang berasal dari id) untuk menekan atau mencegah agar id tidak memunculkan naluri–naluri yang tidak bijaksana dan destruktif. Id hanya memiliki kateksis, sedangkan ego dan superego memiliki anti-kateksis, namun ego dan superego juga bisa membentuk kateksis-objek yang baru sebagai pengalihan pemuasan kebutuhan secara tidak langsung, masih berkaitan dengan asosiasi–asosiasi objek pemuasan kebutuhan yang diinginkan oleh id. Tingkat kehidupan mental dan wilayah pikiran mengacu pada struktur atau komposisi kepribadian. Sehingga, Freud mengusulkan sebuah dinamika atau prinsip motivasional untuk menerangkan kekuatan-kekuatan yang mendorong tindakan manusia. Bagi Freud, manusia termotivasi untuk mencari kesenangan serta menurunkan ketegangan dan kecemasan. Motivasi ini diperoleh dari energi psikis dan fisik dari dorongan-dorongan dasar yang mereka miliki.1. Insting Sebagai Energi Psikis Insting adalah perwujudan psikologi dari kebutuhan tubuh yang menuntut pemuasan misalnya insting lapar berasal dari kebutuhan tubuh secara fisiologis sebagai kekurangan nutrisi, dan secara psikologis dalam bentuk keinginan makan. Hasrat, atau motivasi, atau dorongan dari insting secara kuantitatif adalah energi psikis dan kumpulan enerji dari seluruh insting yang dimiliki seseorang merupakan enerji yang tersedia untuk menggerakkan proses kepribadian. Energi insting dapat dijelaskan dari sumber (source), tujuan (aim), obyek (object) dan daya dorong (impetus) yang dimilikinya : a) Sumber insting : adalah kondisi jasmaniah atau kebutuhan. Tubuh menuntut keadaan yang seimbang terus menerus, dan kekurangan nutrisi misalnya akan mengganggu keseimbangan sehingga memunculkan insting lapar. b) Tujuan insting : adalah menghilangakan rangsangan kejasmanian, sehingga ketidakenakan yang timbul karena adanya tegangan yang disebabkan oleh meningkatnya energi dapat ditiadakan. Misalnya, tujuan insting lapar (makan) ialah menghilangkan keadaan kekurangan makan, dengan cara makan. c) Obyek insting : adalah segala aktivitas yang menjadi perantara keinginan dan terpenuhinya keinginan itu. Jadi tidak hanya terbatas pada bendanya saja, tetapi termasuk pula cara-cara memenuhi kebutuhan yang timbul karena isnting itu. Misalnya, obyek insting lapar bukan hanya makanan, tetapi meliputi kegiatan mencari uang, membeli makanan dan menyajikan makanan itu. d) Pendorong atau penggerak insting : adalah kekuatan insting itu, yang tergantung kepada intensitas (besar-kecilnya) kebutuhan. Misalnya, makin lapar orang (sampai batas tertentu) penggerak insting makannya makin besar.2. Jenis-Jenis Insting a. Insting Hidup (Life Instinct) Insting hidup disebut juga Eros adalah dorongan yang menjamin survival dan reproduksi, seperti lapar,haus dan seks. Bentuk enerji yang dipakai oleh insting hidup itu disebut “libido”. Walaupun Freud mengakui adanya bermacam-macam bentuk insting hidup, namun dalam kenyataannya yang paling diutamakan adalah insting seksual (terutama pada masa-masa permulaan,sampai kira-kira tahun 1920). Dalam pada itu sebenarnya insting seksual bukanlah hanya untuk satu insting saja, melainkan sekumpulan insting-insting, karena ada bermacam-macam kebutuhan jasmaniah yang menimbulkan keinginan-keinginan erotis.b. Insting Mati (Death Instinct) Insting mati disebut juga insting-insting merusak (destruktif). Insting ini berfungsinya kurang jelas jika dibandingkan dengan insting hidup, karenanya tidak begitu dikenal. Akan tetapi adalah suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri, bahwa tiap orang itu pada akhirnya akan mati juga. Inilah yang menyebabkan Freud merumuskan bahwa “Tujuan semua hidup adalah mati” (1920). Suatu derivatif insting mati yang terpenting adalah dorongan agresif. Sifat agresif adalah pengrusakan diri yang diubah dengan obyek subtitusi. Insting hidup dan insting mati dapat saling bercampur, saling menetralkan. Makan misalnya merupakan campuran dorongan makan dan dorongan destruktif, yang dapat dipuaskan dengan menggigit, menguyah dan menelan makanan.3. Kecemasan Kecemasan (anxiety) adalah variabel penting dari hampir semua teori kepribadian. Kecemasan sebagai dampak dari konflik yang menjadi bagian kehidupan yang tak terhindarkan, dipandang sebagai komponen dinamika kepribadian yang utama. Kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptif yang sesuai. Biasanya reaksi individu terhadap ancaman ketidaksenangan dan pengrusakan yang belum dihadapinya ialah menjadi cemas atau takut. Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang mengamankan ego karena memberi sinyal ada bahaya di depan mata. Kecemasan akan timbul manakala orang tidak siap menghadapi ancaman. Hanya ego yang bisa memproduksi atau merasakan kecemasan. Akan tetapi, baik id, superego, maupun dunia luar terkait dalam salah satu dari tiga jenis kecemasan: realistis, neurotis dan moral. Ketergantungan ego pada id menyebabkan munculnya kecemasan neurosis, sedangkan ketergantungan ego pada superego memunculkan kecemasan moral, dan ketergantungannya pada dunia luar mengakibatkan kecemasan realistis.a. Kecemasan Realistis (Realistic Anxiety) Adalah takut kepada bahaya yang nyata ada di dunia luar. Kecemasan ini menjadi asal muasal timbulnya kecemasan neurotis dan kecemasan moral.b. Kecemasan Neurotis (Neurotic Anxiety) Adalah ketakutan terhadap hukuman yang bakal diterima dari orang tua atau figur penguasa lainnya kalau seseorang memuaskan insting dengan caranya sendiri, yang diyakininya bakal menuai hukuman. Hukuman belum tentu diterimanya, karena orang tua belum tentu mengetahui pelanggaran yang dilakukannya, dan misalnya orang tua mengetahui juga belum tentu menjatuhkan hukuman. Jadi, hukuman dan figur pemberi hukuman dalam kecemasan neurotis bersifat khayalan.c. Kecemasan Moral (Moral Anxiety) Adalah kecemasan kata hati, kecemasan ini timbul ketika orang melanggar standar nilai orang tua. Kecemasan moral dan kecemasan neurotis tampak mirip, tetapi memiliki perbedaan prinsip yakni : tingkat kontrol ego pada kecemasan moral orang tetap rasional dalam memikirkan masalahnya sedang pada kecemasan neurotis orang dalam keadaan distres – terkadang panik sehingga mereka tidak dapat berfikir jelas.4. Mekanisme Pertahanan Ego Freud mengartikan mekanisme pertahanan ego (ego defense mechanism) sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-dorongan id maupun untuk menghadapi tekanan superego atas ego, dengan tujuan agar kecemasan bisa dikurangi atau diredakan. Menurut Freud mekanisme pertahanan ego itu adalah mekanisme yang rumit dan banyak macamnya, adapun mekanisme yang banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari ada tujuh macam, yaitu : a. Identifikasi (Identification) Cara mereduksi tegangan dengan meniru (mengimitasi) atau mengidentifikasikan diri dengan orang yang dianggap lebih berhasil memuaskan hasratnya dibanding dirinya. Diri orang lain diidentifikasi tetapi cukup hal-hal yang dianggap dapat membantu mencapai tujuan diri. Terkadang sukar menentukan sifat mana yang membuat tokoh itu sukses sehingga orang harus mencoba mengidentifikasi beberapa sifat sebelum menemukan mana yang ternyata membantu meredakan tegangan. Apabila yang ditiru sesuatu yang positif disebut Introyeksi. Mekanisme pertahanan identifikasi umumnya dipakai untuk tiga macam tujuan, yaitu : • Merupakan cara orang dapat memperoleh kembali sesuatu (obyek) yang telah hilang. • Untuk mengatasi rasa takut. • Melalui identifikasi orang memperoleh informasi baru dengan mencocokkan khayalan mental dengan kenyataan.b. Pemindahan/Reaksi Kompromi (Displacement/Reactions Compromise) Ketika obyek kateksis asli yang dipilih oleh insting tidak dapt dicapai karena ada rintangan dari luar (sosial, alami) atau dari dalam (antikateksis) insting itu direpres kembali ke ketidaksadaran atau ego menawarkan kateksis baru, yang berarti pemindahan enerji dari obyek satu ke obyek yang lain, sampai ditemukan obyek yang dapat mereduksi tegangan. Proses mengganti obyek kateksis untuk meredakan ketegangan, adalah kompromi antara tuntutan insting id dengan realitas ego, sehingga disebut juga reaksi kompromi. Ada tiga macam reaksi kompromi, yaitu : o Sublimasi adalah kompromi yang menghasilkan prestasi budaya yang lebih tinggi, diterima masyarakat sebagai kultural kreatif. o Subtitusi adalah pemindahan atau kompromi dimana kepuasan yang diperoleh masih mirip dengan kepuasan aslinya. o Kompensasi adalah kompromi dengan mengganti insting yang harus dipuaskan. Gagal memuaskan insting yang satu diganti dengan memberi kepuasan insting yang lain.c. Represi (Repression) Represi adalah proses ego memakai kekuatan anticathexes untuk menekan segala sesuatu (ide, insting, ingatan, fikiran) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran.d. Fiksasi dan Regresi (Fixation and Regression) Fiksasi adalah terhentinya perkembangan normal pada tahap perkembangan tertentu karena perkembangan lanjutannya sangat sukar sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan yang terlalu kuat. Orang memilih untuk berhenti (fiksasi) pada tahap perkembangan tertentu dan menolak untuk bergerak maju, karena merasa puas dan aman ditahap itu. Frustasi, kecemasan dan pengalaman traumatik yang sangat kuat pada tahap perkembangan tertentu, dapat berakibat orang regresi : mundur ke tahap perkembangan yang terdahulu, dimana dia merasa puas disana. Perkembangan kepribadian yang normal berarti terus bergerak maju atau progresif. Munculnya dorongan yang menimbulkan kecemasan akan direspon dengan regresi. Orang yang puas berada ditahap perkembangan tertentu, tidak mau progres disebut fiksasi. Progresi yang gagal membuat orang menarik diri atau regresi e. Proyeksi (Projection) Proyeksi adalah mekanisme mengubah kecemasan neurotis atau moral menjadi kecemasan realistis, dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang mengancam dipindahkan ke obyek di luar, sehingga seolah-olah ancaman itu terproyeksi dari obyek eksternal kepada diri orang itu sendiri.f. Introyeksi (Introjection) Introyeksi adalah mekanisme pertahanan dimana seseorang meleburkan sifat-sifat positif orang lain ke dalam egonya sendiri. Misalnya, seorang anak yang meniru gaya tingkahlaku bintang film menjadi introyeksi, kalau peniruan itu dapat meningkatkan harga diri dan menekan perasaan rendah diri, sehingga anak itu merasa lebih bangga dengan dirinya sendiri. Pada usia berapapun, manusia bisa mengurangi kecemasan yang terkait dengan perasaan kekurangan dengan cara mengadopsi atau melakukan introyeksi atas nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan perilaku orang lain.g. Pembentukan Reaksi (Reaction Formation) Tindakan defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan lawan/kebalikannya dalam kesadaran, misalnya benci diganti cinta, rasa bermusuhan diganti dengan ekspresi persahabatan. Timbul masalah bagaimana membedakan ungkapan asli suatu impuls dengan ungkapan pengganti reaksi formasi : bagaimana cinta sejati dibedakan dengan cinta-reaksi formasi. Biasanya reaksi formasi ditandai oleh sifat serba berlebihan, ekstrim, dan kompulsif 5. Perkembangan Kepribadian Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahapan, yakni tahap infantil (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (>12 tahun). Tahap infantil yang paling menentukan dalam membentuk kepribadian, terbagi menjadi tiga fase, yakni fase oral, fase anal, dan fase falis. Perkembangan kepribadian ditentukan terutama oleh perkembangan biologis, sehingga tahap ini disebut juga tahap seksual infantil. Perkembangan insting seks berarti perubahan kateksis seks, dan perkembangan biologis menyiapkan bagian tubuh untuk dipilih menjadi pusat kepuasan seksual (erogenus zone) a. Fase Oral (Usia 0 – 1 tahun) Fase oral adalah fase perkembangan yang berlangsung pada tahun pertama dari kehidupan individu. Pada fase ini, daerah erogen yang paling penting dan peka adalah mulut, yakni berkaitan dengan pemuasan kebutuhan dasar akan makanan atau air. Stimulasi atau perangsangan atas mulut seperti mengisap, bagi bayi merupakan tingkah laku yang menimbulkan kesenangan atau kepuasan.b. Fase Anal (Usia 1 – 2/3 tahun) Fase ini dimulai dari tahun kedua sampai tahun ketiga dari kehidupan. Pada fase ini, fokus dari energi libidal dialihkan dari mulut ke daerah dubur serta kesenangan atau kepuasan diperoleh dari kaitannya dengan tindakan mempermainkan atau menahan faeces (kotoran) pada fase ini pulalah anak mulai diperkenalkan kepada aturan-aturan kebersihan oleh orang tuanya melalui toilet training, yakni latihan mengenai bagaimana dan dimana seharusnya seorang anak membuang kotorannya.c. Fase Falis (Usia 2/3 – 5/6 tahun) Fase falis (phallic) ini berlangsung pada tahun keempat atau kelima, yakni suatu fase ketika energi libido sasarannya dialihkan dari daerah dubur ke daerah alat kelamin. Pada fase ini anak mulai tertarik kepada alat kelaminnya sendiri, dan mempermainkannya dengan maksud memperoleh kepuasan. Pada fase ini masturbasi menimbulkan kenikmatan yang besar. Pada saat yang sama terjadi peningkatan gairah seksual anak kepada orang tuanya yang mengawali berbagai pergantian kateksis obyek yang penting. Perkembangan terpenting pada masa ini adalah timbulnya Oedipus complex, yang diikuti fenomena castration anxiety (pada laki-laki) dan penis envy (pada perempuan). Oedipus complex adalah kateksis obyek seksual kepada orang tua yang berlawanan jenis serta permusuhan terhadap orang tua sejenis. Anak laki-laki ingin memiliki ibunya (ingin memiliki perhatian lebih dari ibunya) dan menyingkirkan ayahnya, sebaliknya anak perempuan ingin memiliki ayahnya dan menyingkirkan ibunya.d. Fase Laten (Usia 5/6 – 12/13 tahun) Fase ini pada usia 5 atau 6 tahun sampai remaja, anak mengalami periode peredaan impuls seksual. Menurut Freud, penurunan minat seksual itu akibat dari tidak adanya daerah erogen baru yang dimunculkan oleh perkembangan biologis. Jadi, fase laten lebih sebagai fenomena biologis, alih-alih bagian dari perkembangan psikoseksual. Pada fase ini anak mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni mengganti kepuasan libido dengan kepuasan non seksual, khususnya bidang intelektual, atletik, keterampilan, dan hubungan teman sebaya. Dan pada fase ini anak menjadi lebih mudah mempelajari sesuatu dan lebih mudah dididik dibandingkan dengan masa sebelum dan sesudahnya (masa pubertas).e. Fase Genital Fase ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam diri remaja. Sistem endokrin memproduksi hormon-hormon yang memicu pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder (suara, rambut, buah dada, dll), dan pertumbuhan tanda seksual primer. Pada fase ini kateksis genital mempunyai sifat narkistik : individu mempunyai kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri, dan orang lain diingkan hanya karena memberikan bentuk-bentuk tambahan dari kenikmatan jasmaniah. Pada fase ini, impuls seks itu mulai disalurkan ke obyek diluar, seperti : berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta lain jenis, perkawinan dan keluarga. Kesimpulan Dalam teori psikoanalisis, kepribadian dipandang sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga unsur atau sistem yakni id, ego dan superego ketiga sistem kepribadian ini satu sama lain saling berkaitan serta membentuk suatu totalitas.1. Id, adalah sistem kepribadian yang paling dasar, yang didalamnya terdapat naluri-naluri bawaan. Untuk dua sistem yang lainnya, id adalah sistem yang bertindak sebagai penyedia atau penyalur energi yang dibutuhkan oleh sistem-sistem terebut untuk operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan yang dilakukannya. Dalam menjalankan fungsi dan operasinya, id bertujuan untuk menghindari keadaan tidak menyenangkan dan mencapai keadaan yang menyenangkan.2. Ego, adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagai pengarah individu kepada dunia objek tentang kenyataan, dan menjalankan fungsinya berdasarkan prinsip kenyataan. Ego tebentuk pada struktur kepribadian individu sebagai hasil kontak dengan dunia luar. Adapun proses yang dimiliki dan dijalankan ego adalah upaya memuaskan kebutuhan atau mengurangi tegangan oleh individu.3. Superego, adalah sistem kepribadian yang berisikan nilai-nilai dan aturan-aturan yang sifatnya evaluatif (menyangkut baik-buruk). Adapun fungsi utama dari superego adalah : • Sebagai pengendali dorongan-dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls teresbut disalurkan dalam cara atau bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat. • Mengarahkan ego pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan moral dari pada dengan kenyataan. • Mendorong individu kepada kesempurnaan. Freud menyatakan gagasan bahwa energy fisik bisa diubah menjadi energy psikis, dan sebaliknya. Yang menjembatani energi fisik dengan kepribadian adalah id dengan naluri-nalurinya (insting).1. Insting 2. Macam-macam insting 3. Penyaluran dan penggunaan energi psikis 4. Kecemasan 5. Mekanisme Pertahanan Ego, yang dapat diuraikan menjadi tujuh macam mekanisme pertahanan ego, yaitu : o Identifikasi o Displecement o Represi o Fiksasi and Regresi o Proyeksi o Introyeksi o Pembentukan Reaksi Freud menyatakan bahwa pada manusia terdapat lima fase atau tahapan perkembangan yang kesemuanya menentukan bagi pembentukan kepribadian. Lima fase tersebut adalah : 1. Fase Oral 2. Fase Anal 3. Fase Falis 4. Fase Laten 5. Fase Genital Alwisol.2009. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press. Suryabrata, Sumardi.2012. Psikologi Kepribadian. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Feist, Jess and Gregory J. Feist.2010. Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika. Koswara, E.1991. Teori-Teori Kepribadian. Bandung: Eresco. : Teori Kepribadian Sigmund Freud

See also:  Arti Mimpi Melihat Orang Yang Kita Sukai?

Apa itu mimpi menurut sains?

Jumat, 14 Mei 2021 16:16 WIB Seringkali mimpi tak sekadar dianggap sebagai bunga tidur. Beberapa percaya bahwa ada penjelasan di balik mimpi. Berikut arti mimpi menurut sains. (Foto: iStockphoto/fizkes) Jakarta, CNN Indonesia – Saat tidur umumnya orang mengalami mimpi, Namun seringkali mimpi ini tak sekadar dianggap sebagai bunga tidur,

Beberapa orang percaya bahwa ada penjelasan lebih dalam yang disyaratkan melalui mimpi. Sejak berabad-abad silam telah ada perdebatan panjang mengenai penyebab dan arti mimpi. Merujuk Scientific American, mulanya mimpi dianggap sebagai penyambung jarak antara manusia dan para dewa. Pemahaman itu kemudian berubah pada masa abad pertengahan, kala para ilmuwan dan ahli psikologi membentuk sebuah gagasan tentang arti dan asal mimpi.

Meski tak sepenuhnya sepakat, tapi secara umum ada teori yang dianut mengenai arti mimpi menurut sains. Pakar psikoanalisis Sigmund Freud pernah mengatakan bahwa mimpi merupakan gagasan dari sisi emosional yang tertekan. Artinya, mimpi yang dialami oleh manusia merupakan keinginan yang tak tersampaikan dan tak terselesaikan di kehidupan nyata sehingga muncul dalam kondisi potongan-potongan gambar saat tertidur.

Langkah langkah pendekatan psikoanalisis?

Pendekatan dan Teknik Konseling Psikoanalisis A. Konsep Dasar Konseling Psikoanalisis Hakikat manusia

Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud, bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur, yaitu id, ego, dan super ego.

B. Tujuan Konseling Psikoanalisis

Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan hal-hal yang tak disadari menjadi sadar kembali, dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak, terutama usia 2-5 tahun, untuk ditata, disikusikan, dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi.

See also:  Apa Arti Mimpi Melihat Kotoran Kita?

C. Deskripsi Proses Konseling Psikoanalisis 1. Fungsi konselor

Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim, artinya konselor berusaha tak dikenal klien, dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya, sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis.

2. Langkah-langkah yang ditempuh :

Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. Menutup wawancara konseling

D. Teknik Konseling Psikoanalisis

Asosiasi bebas, yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Klien diminta mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. Hal ini disebut juga katarsis. Analisis mimpi, klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Menurut Freud, mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Interpretasi, yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien, baik dalam asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan, menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resitensi dan transferensi. Analisis resistensi, resistensi berati penolakan, analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi, Transferensi adalah mengalihkan, bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam hal ini, klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut.

-7.002979 108.457279 : Pendekatan dan Teknik Konseling Psikoanalisis

Apa itu analisis resistensi?

Analisis resistensi adalah teknik konseling psikoanalisis yang digunakan untuk melakukan analisis terhadap transferensi konseli. Transferensi terjadi ketika konseli memandang konselor seperti orang lain.

Apa yang dimaksud dengan psikoanalisis dan contohnya?

Mengenal Teori Psikoanalisis Dalam Psikologi – Tahukah Grameds bahwa kajian ilmu psikologi mulai diakui sebagai ilmu mandiri sejak tahun 1879 saat Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama kali di Jerman. Sejak saat itulah psikologi menjadi ilmu yang berkembang pesat dan mulailah lahir berbagai aliran-aliran di dalam kajian ilmu tersebut.

  • Salah satu aliran penting dalam kajian ilmu psikologi ini adalah konsep kepribadian seseorang.
  • Onsep ini banyak didefinisikan oleh para ahli, salah satunya yang paling populer dari konsep kepribadian adalah teori psikoanalisis.
  • Teori psikoanalisis adalah salah satu teori yang membahas tentang hakikat dan perkembangan bentuk kepribadian yang dimiliki oleh manusia.
See also:  Apa Arti Mimpi Jadi Selingkuhan Pacar Orang?

Unsur utama dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek kepribadian lainnya. Dasar teori psikoanalisis adalah mengasumsikan bahwa kepribadian akan mulai berkembang saat terjadi konflik- konflik dari aspek- aspek psikologis itu sendiri. Gejala tersebut biasanya terjadi pada anak- anak atau usia dini.

Kemudian pendapat Sigmund Freud tentang kepribadian manusia ini didasarkan pada pengalaman- pengalaman yang dialami pasiennya. Sigmund Freud adalah ilmuwan psikologis yang terkenal karena gagasannya tentang kepribadian manusia berdasarkan analisis tentang mimpinya, dan bacaannya yang luas tentang berbagai literatur ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

Pengalaman- pengalaman inilah yang menjadi data yang mendasar bagi evolusi teori kepribadian Freud atau kita kenal juga dengan teori psikoanalisa. Bagi Freud, teori ini cenderung mengikuti observasi dalam konsep kepribadian, sehingga akan terus mengalami revisi, bahkan sampai 50 tahun terakhir hidupnya.

Karena teorinya yang terus berevolusi, Freud menegaskan teori ini tidak boleh jatuh ke dalam eklektisisme. Itulah sebabnya para pengikutnya yang memiliki pandangan berseberangan dari ide- ide dasar teori psikoanalisis akan dikucilkan secara pribadi, bahkan profesional oleh Freud. Ia menganggap dirinya sebagai ilmuwan, namun, ia memiliki definisi yang berbeda tentang ilmu dibandingkan kebanyakan psikolog saat ini.

Freud lebih mengandalkan penalaran deduktif dibandingkan metode riset yang ketat. ia juga lebih memilih melakukan observasi secara subjektif dengan jumlah sampel yang relatif kecil. Freud menggunakan pendekatan studi kasus secara eksklusif dan merumuskan secara khas hipotesis- hipotesis terhadap fakta kasus yang ditemukannya.

  • Hal tersebut dilakukan Freud saat kajian ilmu psikologi ini memprioritaskan penelitian atas kesadaran dan memandang kesadaran sebagai aspek utama dalam kehidupan mental.
  • Gagasan Sigmund Freud adalah menyatakan bahwa kesadaran itu hanyalah bagian kecil saja dari kehidupan mental.
  • Sedangkan bagian terbesarnya adalah justru ketidaksadaran atau alam tak sadar.

Freud menggambarkan alam sadar dan tak sadar ini seperti bentuk gunung es yang terapung. Ukuran bentuk bagian gunung es yang muncul ke permukaan air yakni alam sadar ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan bagian gunung es yang tenggelam, yakni alam tak sadar.

  1. Emudian Freud memandang manusia sebagai makhluk yang deterministik yang mendefinisikan bahwa kegiatan manusia pada dasarnya dibentuk dengan kekuatan yang irasional, kekuatan alam bawah sadar, dorongan biologis, dan insting pada saat berusia enam tahun pertama kehidupannya.
  2. Teori psikoanalisis Freud bisa masuk sebagai kajian ilmu baru tentang manusia dan akan terus mengalami banyak pertentangan.

Bahkan sampai sekarang, teori ini juga masih banyak menerima kritikan dari para ahli atau ilmuwan yang berseberangan dengan gagasan Freud. Contohnya seperti pendapat H.J. Eysenck yang merupakan seorang Profesor Psikologi asal Jerman berpendapat bahwa psikoanalisis tidak bisa dianggap sebagai kajian ilmu pengetahuan.

Eysenck adalah seorang tokoh beraliran behaviorisme ekstrem yang menganggap psikoanalisis tidak masuk akal jika diberi predikat ilmiah karena sama sekali tidak bersifat behavioristik. Ada banyak gagasan besar dan penting yang dikemukakan oleh Freud, sehingganya dipandang sebagai orang yang revolusioner.

Ia juga tidak hanya berpengaruh di bidang psikologi atau psikiatri, melainkan juga untuk bidang- bidang lain, seperti sosiologi, antropologi, ilmu politik, filsafat, dan kesusastraan atau kesenian. Dalam bidang ilmu psikologi, terutama psikologi kepribadian dan lebih khusus lagi pada teori kepribadian, pengaruh Freud sangat kuat pada perkembangan teori psikoanalisis dengan beberapa fakta penting.

Salah satunya bahwa sebagian besar teori kepribadian modern tentang tingkah laku atau kepribadian telah mengambil sebagian, atau setidaknya mempersoalkan beberapa gagasan- gagasan Freud. Psikoanalisis adalah bentuk aliran yang utama dalam ilmu psikologi dan memiliki teori kepribadian atau juga bisa kita sebut dengan sebutan teori kepribadian psikoanalisis atau psychoanalytic theory of personality,

Dalam praktiknya, teori psikoanalisis banyak dihubungkan dengan pendidikan yang sangat kompleks. Teori psikoanalisis ini sudah banyak memperbanyak dan memodifikasi tingkat perilaku atau sikap dalam hubungan di dunia pendidikan, yakni sebuah hubungan antara guru atau pendidik, orang tua, dan peserta didik yang bersangkutan.

Apa yang terjadi jika id, ego, dan superego tidak seimbang?

5. Ketika id, ego, dan superego tidak seimbang – Unsplash.com/k2018 Ketika ego tidak mampu menyeimbangkan antara tuntutan id dengan realita dan nilai-nilai moral (superego) akan terjadi kecemasan atau ansietas. Ada 3 macam tipe ansietas, yaitu:

Ansietas objektif: ketakutan yang berasal dari dunia nyata Ansietas neurotik: kecemasan karena ingin memuaskan id Ansietas moral: ketakutan yang berasal dari nilai moral. Bila tindakan berlawanan dengan nilai moral, seseorang akan merasa malu/bersalah.

Untuk mengurangi kecemasan, ego dapat mengembangkan sistem pertahahan diri atau bisa disebut dengan Defense Mechanism. Contohnya adalah denial, yaitu menolak keberadaan ancaman eksternal atau hal yang bersifat traumatis. Oleh karenanya, sebaiknya kita bisa menyeimbangkan ketiga elemen psikologis tersebut dalam diri agar mental tetap terjaga.

Siapa manusia menurut konsep psikoanalisis?

Abstract – Skripsi ini berjudul Konsep Jiwa Menurut Teori Psikoanalisis Ditinjau dari Perspektif Islam. Menurut teori psikoanalisis, perilaku manusia ditentukan oleh adanya interaksi dari tiga subsistem dalam kepribadian, yaitu id, ego, super ego. Psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo valens yaitu manusia yang berkeinginan, dimana perilakunya digerakkan oleh keinginan-keinginan terpendam.

Jiwa adalah sesuatu yang terdapat didalam diri manusia yang tidak dapat diketahui wujudnya, yang dapat menerima arahan kepada kebaikan dan keburukan, dan memiliki berbagai sifat dan karakter kemanusiaan, juga memiliki pengaruh yang nyata pada perilaku manusia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana ayat Al-Qur’an, hadits dan pendapat ulama memandang konsep jiwa menurut teori psikoanalisis.

Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data yang ada di pustaka, membaca, mencatat, serta mengolah bahan yang berkenaan dengan penelitian ini.

  • Dalam membahas skripsi ini penulis menggunakan metode content analysis atau analisis isi, yaitu proses penarikan kesimpulan berdasarkan pertimbangan yang dibuat sebelumnya atau pertimbangan umum simpulan yang dapat ditiru (replicable) dan shahih data dengan memperhatikan konteksnya.
  • Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jiwa manusia mencakup tiga aspek yaitu nafs ammarah, nafs lawwamah dan nafs muthmainnah.

Teori psikoanalisis memandang jiwa manusia juga dari tiga aspek yaitu id, ego dan super ego. Dalam penelitian ini jelas bahwa teori psikoanalisis berbeda dengan pandangan Islam terhadap jiwa, dikarenakan psikoanalisis adalah bersumber dari pemikiran seorang manusia yang mencetuskan sebuah teori berdasarkan pengalamannya dan pikirannya sendiri, sedangkan dalam Islam Allah telah menetapkan ketentuan akan makna, substansi dan karakteristik jiwa yang Allah wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing : 1. Drs. Mahdi NK, M.kes; 2. Ismiati, S. Ag, M. Si
Uncontrolled Keywords: Jiwa, Psikologi, Islam
Subjects: 200 Religion (Agama) > 297 Islam > 2X7 Filsafat dan Perkembangan > 2X7.1 Filsafat > 2X7.15 Phikologi Agama Islam
Divisions: Fakultas Dakwah dan Komunikasi > S1 Bimbingan dan Konseling Islam
Depositing User: Nur Siti Maimunah
Date Deposited: 14 Mar 2018 04:59
Last Modified: 14 Mar 2018 04:59
URI: https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/2917

Apa itu mimpi menurut sains?

Jumat, 14 Mei 2021 16:16 WIB Seringkali mimpi tak sekadar dianggap sebagai bunga tidur. Beberapa percaya bahwa ada penjelasan di balik mimpi. Berikut arti mimpi menurut sains. (Foto: iStockphoto/fizkes) Jakarta, CNN Indonesia – Saat tidur umumnya orang mengalami mimpi, Namun seringkali mimpi ini tak sekadar dianggap sebagai bunga tidur,

Beberapa orang percaya bahwa ada penjelasan lebih dalam yang disyaratkan melalui mimpi. Sejak berabad-abad silam telah ada perdebatan panjang mengenai penyebab dan arti mimpi. Merujuk Scientific American, mulanya mimpi dianggap sebagai penyambung jarak antara manusia dan para dewa. Pemahaman itu kemudian berubah pada masa abad pertengahan, kala para ilmuwan dan ahli psikologi membentuk sebuah gagasan tentang arti dan asal mimpi.

Meski tak sepenuhnya sepakat, tapi secara umum ada teori yang dianut mengenai arti mimpi menurut sains. Pakar psikoanalisis Sigmund Freud pernah mengatakan bahwa mimpi merupakan gagasan dari sisi emosional yang tertekan. Artinya, mimpi yang dialami oleh manusia merupakan keinginan yang tak tersampaikan dan tak terselesaikan di kehidupan nyata sehingga muncul dalam kondisi potongan-potongan gambar saat tertidur.

Apa itu Teknik transferensi?

Pendekatan dan Teknik Konseling Psikoanalisis A. Konsep Dasar Konseling Psikoanalisis Hakikat manusia

Semua kejadian psikis ditentukan oleh kejadian psikis sebelumnya. Kesadaran merupakan suatu hal yang tidak biasa dan tidak merupakan proses mental yang berciri biasa. Pendekatan ini didasari oleh teori Freud, bahwa kepribadian seseorang mempunyai tiga unsur, yaitu id, ego, dan super ego.

B. Tujuan Konseling Psikoanalisis

Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus dari pada mekanisme penyesuaian diri mereka sendiri Membentuk kembali struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan hal-hal yang tak disadari menjadi sadar kembali, dengan menitikberatkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak, terutama usia 2-5 tahun, untuk ditata, disikusikan, dianalisis dan ditafsirkan sehingga kepribadian klien bisa direkonstruksi lagi.

C. Deskripsi Proses Konseling Psikoanalisis 1. Fungsi konselor

Konselor berfungsi sebagai penafsir dan penganalisis Konselor bersikap anonim, artinya konselor berusaha tak dikenal klien, dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya, sehingga klien dengan mudah dapat memantulkan perasaannya untuk dijadikan sebagai bahan analisis.

2. Langkah-langkah yang ditempuh :

Menciptakan hubungan kerja dengan klien Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi. Menutup wawancara konseling

D. Teknik Konseling Psikoanalisis

Asosiasi bebas, yaitu mengupayakan klien untuk menjernihkan atau mengikis alam pikirannya dari alam pengalaman dan pemikiran sehari-hari sekarang, sehingga klien mudah mengungkapkan pengalaman masa lalunya. Klien diminta mengutarakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Tujuan teknik ini adalah agar klien mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lalu. Hal ini disebut juga katarsis. Analisis mimpi, klien diminta untuk mengungkapkan tentang berbagai kejadian dalam mimpinya dan konselor berusaha untuk menganalisisnya. Teknik ini digunakan untuk menilik masalah-masalah yang belum terpecahkan. Proses terjadinya mimpi adalah karena pada waktu tidur pertahanan ego menjadi lemah dan kompleks yang terdesak pun muncul ke permukaan. Menurut Freud, mimpi ini ditafsirkan sebagai jalan raya mengekspresikan keinginan-keinginan dan kecemasan yang tak disadari. Interpretasi, yaitu mengungkap apa yang terkandung di balik apa yang dikatakan klien, baik dalam asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi klien. Konselor menetapkan, menjelaskan dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang termanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resitensi dan transferensi. Analisis resistensi, resistensi berati penolakan, analisis resistensi ditujukan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya penolakannya (resistensi). Konselor meminta perhatian klien untuk menafsirkan resistensi Analisis transferensi, Transferensi adalah mengalihkan, bisa berupa perasaan dan harapan masa lalu. Dalam hal ini, klien diupayakan untuk menghidupkan kembali pengalaman dan konflik masa lalu terkait dengan cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan yang oleh klien dibawa ke masa sekarang dan dilemparkan ke konselor. Biasanya klien bisa membenci atau mencintai konselor. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar bisa terungkap tranferensi tersebut.

-7.002979 108.457279 : Pendekatan dan Teknik Konseling Psikoanalisis

Adblock
detector